Penulis: Azam Afnan
TVRINews, Jambi
Kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, khususnya jenis solar, mulai dikeluhkan para sopir truk pengangkut sembako. Aturan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kelancaran distribusi logistik antarprovinsi.
Di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), para sopir mengaku kini hanya dapat mengisi BBM subsidi maksimal 100 liter per hari, dari sebelumnya mencapai 200 liter. Pembatasan ini membuat waktu tempuh pengiriman barang menjadi lebih lama dari biasanya.
Salah seorang sopir truk, Sihombing, mengatakan kebijakan tersebut turut memengaruhi operasional di lapangan. Pasalnya, biaya bahan bakar yang diberikan perusahaan umumnya hanya mencukupi untuk penggunaan BBM subsidi.
“Pembatasan ini membuat perjalanan jadi lebih lama. Biasanya tiga hari, sekarang bisa sampai lima hari karena harus mencari tambahan BBM,” ujar Sihombing.
Selain pembatasan kuota, para sopir juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis biosolar di jalur lintas timur Sumatra. Kondisi ini dinilai semakin menyulitkan proses distribusi logistik, terutama untuk kebutuhan bahan pokok.
Para sopir berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan khusus atau pengecualian bagi kendaraan pengangkut sembako, serta menjamin ketersediaan BBM subsidi di SPBU, agar distribusi barang kebutuhan masyarakat tetap berjalan lancar.
Editor: Redaktur TVRINews





