TransTRACK, perusahaan technologu enabler yang berfokus pada digitalisasi operasional armada, mulai melangkah lebih jauh ke pasar global, guna memenuhi kebutuhan efisiensi di sektor logistik dan transportasi yang terus meningkat.
Perusahaan yang berdiri sejak 2019 itu mempercepat ekspansi ke Asia Tenggara dan Timur Tengah, dua kawasan yang dinilai memiliki kebutuhan tinggi terhadap solusi manajemen armada berbasis teknologi.
Sebelumnya, TransTRACK hadir di Malaysia, Singapura, Australia, hingga sejumlah negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar. Kini, mereka menargetkan penetrasi bisnis lanjutan ke Vietnam dan Thailand, serta negara-negara seperti Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Saat ini, TransTRACK telah melayani lebih dari 1.500 klien dan beroperasi di berbagai pasar internasional. Mereka menyediakan solusi manajemen armada (Fleet Management System) dan integrasi rantai pasok (supply chain integrator) berbasis teknologi (GPS, AI, dan IoT) untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan produktivitas operasional logistik.
Layanan utamanya mencakup pelacakan kendaraan secara real-time, analisis perilaku pengemudi, manajemen bahan bakar, serta perawatan armada
Berdasarkan laporan Berg Insight, perusahaan ini masuk dalam tiga besar penyedia solusi fleet management di Asia Tenggara selama dua tahun berturut-turut.
Perluasan pasar yang kini dilakukan TransTRACK terjadi di tengah perubahan besar dalam industri logistik global. Kebutuhan akan efisiensi operasional, kepatuhan terhadap regulasi, serta tekanan terhadap standar keberlanjutan (ESG) membuat adopsi teknologi menjadi semakin krusial.
Nilai pasar global fleet management sendiri diperkirakan melampaui 30 miliar dolar AS pada 2026 dan berpotensi tumbuh hingga lebih dari 120 miliar dolar AS pada 2035, menurut Global Market Insights. Di Asia Tenggara, meski masih dalam tahap awal, pertumbuhan sektor ini tergolong cepat.
TransTRACK melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisinya di industri fleet intelligence dan integrasi rantai pasok secara global.
“Memasuki tahun ketujuh, kami melihat momentum yang sangat kuat untuk scale-up secara global, khususnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah,” ujar Anggia Meisesari, Co-Founder & CEO TransTRACK.
Menurutnya, kedua kawasan tersebut memiliki kompleksitas operasional tinggi yang membutuhkan solusi teknologi yang tidak hanya berskala global, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Perubahan industri juga mendorong transformasi cara pengelolaan armada. Jika sebelumnya fokus hanya pada pelacakan, kini perusahaan dituntut untuk mengambil keputusan berbasis data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). TransTACK menjawab kebutuhan ini lewat platform berbasis IoT, AI, robotics, dan data analytics. Sistem ini dirancang untuk memberikan visibilitas dan kontrol operasional secara real-time.
Co-Founder & CTO TransTRACK, Aris Pujud Kurniawan, menjelaskan bahwa platform yang dikembangkan bersifat fleksibel dan mudah diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada.
“Kami membangun platform yang hardware-agnostic dan integration-ready, sehingga dapat dengan mudah diimplementasikan di berbagai ekosistem. Dengan AI-powered analytics seperti safety scoring, predictive maintenance, hingga carbon intelligence, kami membantu klien meningkatkan efisiensi sekaligus mengelola risiko,” ujarnya.
Ia menambahkan, industri kini bergerak menuju fase baru di mana keputusan operasional tidak lagi berbasis intuisi, melainkan berbasis data real-time dan parameter ESG.
Ke depan, TransTRACK menargetkan ekspansi ke lebih dari 10 negara dan penetrasi ke 10 sektor industri utama hingga 2028. Fokus utamanya berada pada sektor maritim, pertambangan, dan perkebunan, segmen yang dikenal memiliki nilai kontrak tinggi serta tingkat loyalitas pelanggan yang kuat.
Untuk mendukung strategi tersebut, TransTRACK mengadopsi pendekatan locally adaptive technology deployment. Artinya, solusi yang ditawarkan disesuaikan dengan kondisi operasional, regulasi, dan tingkat kematangan digital di masing-masing negara.
Selain itu, penguatan operasional juga dilakukan melalui sistem monitoring proaktif, penerapan guaranteed SLA, serta pengembangan customer success framework untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan klien.
TransTRACK juga memperkuat pengembangan talenta melalui TransTRACK Academy, sekaligus menjadikan Singapura sebagai pusat regional untuk mengelola ekspansi di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Langkah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan ekosistem dan sumber daya manusia.





