Empat orang diduga teroris narkoba meninggal dunia usai kapal mereka yang berlayar di Samudra Pasifik diserang oleh pasukan militer AS pada Selasa (14/4/2026). Serangan yang dilakukan oleh pasukan tersebut menandai hari ketiga dari operasi serupa.
Komando Selatan AS melaui unggahan X mengatakan bahwa kapal itu diduga sebagai pengedar narkoba dan melintasi rute perdagangan narkoba.
“Intelijen mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut sedang melintasi rute perdagangan narkoba yang dikenal di Pasifik Timur dan terlibat dalam operasi perdagangan narkoba,” tulis Komando dalam unggahan yang menyertakan video buram yang menunjukkan sebuah kapal meledak.
Melansir The Guardian, pengumuman itu menggunakan bahasa yang hampir sama dengan pernyataan militer pada Minggu (12/4/2026), yang menyebut lima orang meninggal dunia dalam ledakan kapal dan satu orang selamat.
Lalu, pada Senin (13/4/2026), Komando Selatan AS kembali menyatakan dua orang meninggal dalam serangan terhadap sebuah perahu.
Donald Trump Presiden AS berupaya membenarkan serangan tersebut dengan menyebut bahwa AS tengah terlibat dalam “konflik bersenjata” dengan kartel Amerika Latin.
Namun, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa hukum humaniter internasional tidak membenarkan pembunuhan terhadap orang yang hanya diduga terlibat perdagangan narkoba.
Mereka juga menyebut belum ada bukti bahwa target serangan mengancam nyawa secara langsung.(ily/ham/rid)




