Ekonomi Hijau Naik Daun, Sandiaga Uno Lihat Potensi Besar di Indonesia

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gagasan ekonomi hijau atau green economy semakin menguat sebagai arah baru pembangunan ekonomi global, termasuk di Indonesia. Konsep ini tidak hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan penciptaan lapangan kerja baru yang dikenal sebagai green jobs.

Pengusaha dan investor, Sandiaga Salahuddin Uno menilai ekonomi hijau memiliki potensi besar menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia ke depan. Menurut dia, kawasan Asia, termasuk Indonesia, memiliki peluang strategis karena kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah. 

Baca Juga: IMF Warning! Pertumbuhan Ekonomi Global Bisa Turun ke 2% Jika Perang Terus Berlanjut

“Asia memiliki 60 persen populasi dan keanekaragaman hayati dunia. Itu bukan kerentanan, tetapi potensi,” ujarnya dalam diskusi panel MUTU Green Economic Series 2026 Bersama Direktur PT Mutuagung Lestari, M Syarip Lambaga pada rabu (15/4/2026).

Dalam Diskusi bertajuk 'Ekonomi Hijau yang Bermutu Menuju Indonesia Maju' itu Ia menekankan, dengan kombinasi inovasi, pembiayaan hijau, serta reformasi kebijakan, ekonomi hijau dapat mengubah risiko perubahan iklim menjadi peluang ekonomi baru. 

Sandiaga Uno melihat ekonomi hijau bukan sekadar tren, melainkan arah strategis menuju Indonesia Maju, yang mampu menjadi penggerak pertumbuhan sekaligus menciptakan lapangan kerja masa depan.

Ekonomi hijau mencakup berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan limbah, kehutanan berkelanjutan, hingga ekonomi karbon. Dalam konteks ini, pasar karbon menjadi salah satu peluang besar yang terus berkembang dan telah memasuki fase implementasi nyata. 

Di Indonesia, perdagangan karbon bahkan menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan volume transaksi mencapai sekitar 700.000 ton CO₂ ekuivalen hingga pertengahan 2025.

Lebih jauh, potensi proyek berbasis alam seperti mangrove, lahan gambut, dan kehutanan diperkirakan mencapai 13 miliar ton CO2 ekuivalen dengan nilai ekonomi sekitar USD 8 miliar per tahun atau setara sekira Rp120 triliun per tahun.

Estimasi ini sejalan dengan berbagai kajian dari World Bank serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyoroti besarnya potensi ekonomi berbasis solusi alam (nature-based solutions) di Indonesia.

Secara lebih luas, berbagai kajian dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan International Renewable Energy Agency menunjukkan bahwa total potensi ekonomi hijau Indonesia—termasuk energi terbarukan, ekonomi karbon, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan—dapat mencapai kisaran Rp3.000-4.000 triliun dalam jangka panjang, menjadikannya salah satu peluang ekonomi terbesar bagi transformasi nasional.

Dalam lanskap global, sejumlah perusahaan berbasis ekonomi hijau, terutama di sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga pengelolaan karbon telah mencatatkan nilai bisnis hingga triliunan rupiah. 

Namun, Sandiaga Uno menilai peluang yang belum tergarap justru jauh lebih besar, khususnya dalam pengembangan pasar karbon, penghitungan carbon footprint, perdagangan kredit karbon, serta teknologi pemantauan emisi. 

Ia juga menyebutkan bahwa ekosistem ekonomi hijau terdiri dari tiga pilar utama, yakni proyek berbasis alam (nature-based solutions), solusi berbasis teknologi seperti AI dan blockchain, serta ekosistem pembiayaan dan perdagangan karbon.

Lebih jauh, ekonomi hijau memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja. 

“Ekonomi hijau mampu menciptakan peluang kerja masa depan, dengan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, potensi ini bisa dikembangkan,” ujarnya. 

Lapangan kerja hijau ini mencakup berbagai bidang, seperti energi bersih, pengelolaan lingkungan, teknologi rendah karbon, hingga sektor pariwisata berkelanjutan.

Bagi Indonesia, momentum transisi menuju ekonomi hijau dinilai sangat penting. Selain untuk memenuhi komitmen penurunan emisi, langkah ini juga membuka peluang investasi baru dan meningkatkan daya saing global. 

Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang tepat dan kolaborasi seluruh pihak, ekonomi hijau diyakini dapat menjadi fondasi pembangunan jangka panjang.

Baca Juga: Wow! Perputaran Ekonomi BTN JAKIM 2026 Diprediksi Tembus Rp200 Miliar 

“Ekonomi hijau bukan hanya tentang lingkungan, tetapi tentang masa depan ekonomi Indonesia,” tutur Sandiaga Uno.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Matahari (LPPT) Patok Dividen Rp250 per Saham, Yield Tembus 13 Persen
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Aksi Brutal di Final Trailer Film Ikatan Darah
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Pengedar Ekstasi di Jalan Gondorejo, Kota Batu Diancam Pasal Berlapis
• 4 jam lalurealita.co
thumb
Nadiem Makarim Akui Kurang Sopan dan Minta Maaf ke Tokoh Politik
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Daftar Kota Terpadat di Dunia, Jakarta Urutan Pertama
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.