Ljubljana: Ketua parlemen Slovenia yang baru dilantik, Zoran Stevanovic, menyatakan rencananya untuk menggelar referendum terkait kemungkinan keluarnya negara tersebut dari NATO.
Dalam pernyataannya kepada penyiar publik RTVSLO, Stevanovic mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari janji politik kepada masyarakat.
“Saya harus mengatakan bahwa kami telah menjanjikan kepada rakyat referendum mengenai isu keluar dari NATO, dan kami akan menyelenggarakan referendum ini,” ujar Stevanovic, dikutip dari Anadolu, Rabu, 15 April 2026.
Ia menegaskan bahwa posisinya tidak berpihak pada kekuatan asing mana pun.
“Saya tidak memiliki pandangan pro-Rusia, hanya pro-Slovenia. Kami berpendapat bahwa Slovenia harus menjalankan kebijakan secara independen dan berdaulat,” kata Stevanovic.
Menurutnya, Slovenia perlu menjalin kerja sama dengan semua negara, termasuk kekuatan besar dunia, namun tanpa harus berada dalam posisi subordinat.
“Hubungan baik dengan semua pihak, tetapi tetap dalam kepentingan Slovenia,” tambah Stevanovic.
Stevanovic juga mengisyaratkan perubahan arah kebijakan luar negeri, dengan menekankan penolakan terhadap keterlibatan dalam konflik militer maupun diplomatik internasional.
“Kami akan sepenuhnya menentang campur tangan dalam sengketa militer dan diplomatik luar negeri karena Slovenia tidak pernah diuntungkan dari hal tersebut,” ujar Stevanovic.
Meski membuka wacana keluar dari NATO, ia mengakui bahwa dukungan publik untuk meninggalkan Uni Eropa kemungkinan kecil. Ia menilai Slovenia masih memperoleh manfaat signifikan dari keanggotaan di blok tersebut.
Selain itu, ia menyebut partainya juga berencana mendorong agenda lain, termasuk usulan untuk keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dalam agenda diplomatiknya, Stevanovic menyatakan keinginan untuk melakukan kunjungan ke Moskow guna membangun hubungan yang lebih luas.
“Saya ingin membangun jembatan dan bekerja sama dengan semua negara, terlepas dari tembok yang telah dibangun antara Barat dan Timur,” pungkas Stevanovic.




