Mentan ungkap sembilan strategi pemerintah wujudkan swasembada pangan

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan sembilan strategi kunci yang dilakukan pemerintah sebagai fondasi swasembada pangan nasional melalui langkah terukur guna memperkuat produksi serta ketahanan pangan Indonesia.

"Target swasembada pangan nasional yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun berhasil dipercepat menjadi satu tahun melalui transformasi menyeluruh yang dijalankan Kementerian Pertanian," kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Adapun sembilan strategi itu meliputi pertama, reformasi kebijakan dan regulasi melalui penyederhanaan ratusan aturan serta penerbitan sedikitnya 16 regulasi strategis dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) dan Instruksi Presiden (Inpres) untuk mempercepat produksi dan distribusi pangan serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Kita perbaiki mulai dari kebijakan. Kebijakan regulasi kita perbaiki. Perpres-Inpres saja sampai hari ini sudah 16 Perpres-Inpres yang dikeluarkan sektor pangan untuk mempermudah pertanian kita seluruh Indonesia,” katanya menjelaskan.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, pemerintah memangkas 145 aturan pupuk. Proses yang sebelumnya memerlukan persetujuan hingga 12 menteri, 38 gubernur, dan 514 kepala daerah kini dipangkas melalui Instruksi Presiden.

"Sehingga distribusi pupuk dilakukan langsung dari Kementerian Pertanian ke PT Pupuk Indonesia dan diteruskan ke petani secara lebih cepat dan tepat sasaran," ujar dia.

Kedua, reformasi tata kelola pupuk dengan meningkatkan alokasi hingga 9,55 juta ton, menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen, serta memperluas akses petani melalui penggunaan KTP dan penyederhanaan distribusi.

“Contoh pupuk, turun 20 persen. Tidak pernah terjadi selama Republik ini merdeka. Yang kedua, volumenya kita tambah,” ujar dia.

Ketiga, realokasi anggaran sebesar Rp3,8 triliun dari belanja non-prioritas ke sektor produktif seperti irigasi, benih unggul, pompanisasi, dan alat mesin pertanian.

“Kita efisiensi melalui refocusing anggaran. Contoh refocusing, biaya perjalanan dinas, biaya hotel, biaya rehab kantor yang tidak penting, kami cabut, kita dorong anggaran itu ke sektor yang produktif,” katanya menegaskan.

Keempat, intensifikasi pertanian melalui penggunaan benih unggul, pemupukan tepat waktu, serta pompanisasi yang menjangkau sekitar 500 ribu hektare lahan tadah hujan dan meningkatkan indeks pertanaman hingga dua sampai tiga kali tanam.

“Berarti produksi meningkat kan? Lalu benih unggul. Produktivitasnya 9 ton, sampai 10 ton. Minimal 8 ton, kita belikan benih dan bagikan secara gratis,” katanya menjelaskan.

Selain itu, optimalisasi lahan rawa juga dilakukan pada sekitar 800 ribu hektare, sehingga total peningkatan luas tanam dari program intensifikasi mencapai sekitar 1,3 juta hektare.

Kelima, ekstensifikasi melalui program cetak sawah baru seluas sekitar 200 ribu hektare sebagai tambahan luas baku sawah nasional.

Keenam, penguatan infrastruktur sumber daya air melalui pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan dengan potensi layanan irigasi mencapai 400 ribu hektare serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

Ketujuh, modernisasi pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian, drone, serta teknologi pertanian presisi.

Menurut dia, penggunaan alat dan mesin pertanian terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil produksi hingga 100 persen.

Kedelapan, reformasi kelembagaan dan tata kelola melalui evaluasi dan rotasi pejabat serta penertiban distribusi untuk memastikan program berjalan efektif. Sebanyak 248 pejabat dilakukan rotasi dan evaluasi, serta ribuan izin distribusi pupuk dicabut guna memastikan distribusi berjalan tepat sasaran.

Kesembilan, intervensi pasar melalui penguatan peran Perum Bulog dalam menyerap gabah petani dengan skema any quality seharga Rp6.500 per kilogram (kg) guna menjaga stabilitas harga dan memberikan kepastian usaha.

"Langkah ini terbukti mampu menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani sekaligus meningkatkan cadangan beras pemerintah," katanya menegaskan.

Ia menegaskan berbagai strategi tersebut telah menunjukkan hasil nyata. Produksi beras nasional meningkat sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen pada tahun 2025, melampaui kebutuhan domestik yang berada pada kisaran 2,5–2,6 juta ton per bulan.

“Kalau digabung semua ini, berarti ada tambahan tanam sekitar 1,5 juta hektare. Dikalikan produktivitas rata-rata, kenaikan produksi sekitar 4 juta ton," katanya.

"Itu sesuai dengan data BPS (Badan Pusat Statistik), FAO (Food and Agriculture Organization), dan USDA (United States Department of Agriculture Amerika). Kalau ada yang mau protes, ya protes itu ke FAO, protes ke Amerika (USDA), protes ke BPS,” katanya menambahkan.

Kemudian cadangan beras pemerintah (CBP) hingga pertengahan April 2026 dilaporkan mencapai 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Nilai Tukar Petani (NTP) juga meningkat menjadi 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, sementara pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun.

“Di Bulog adalah dulu maksimal selama Republik Indonesia merdeka, stoknya (CBP) maksimal 2,6 juta ton. Hari ini 4,8 juta ton, sebentar lagi 5 juta. Hampir dua kali lipat,” ujar dia.

Pemerintah menegaskan capaian tersebut diperoleh tanpa impor beras medium, sehingga sepenuhnya ditopang oleh produksi dalam negeri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Deva Mahenra dan Mawar de Jongh Bongkar Realita Syuting Jadi Chef, Ternyata Jarang Makan dan Penuh Tekanan
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Petro ajak Eropa, Amerika Latin ikuti langkah Italia tekan Israel
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Sering Merasa Insecure? Ini 13 Langkah Ampuh Cintai Diri Sendiri Biar Hidup Makin Happy!
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo akan Resmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk pada Hari Buruh
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Selly Andriany Soroti Kisruh Koper Haji, Minta Pengadaan Tak Lagi Dikelola Maskapai
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.