Bisnis.com, SEMARANG — Pasar Johar Semarang tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan tradisional, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi kuliner tradisional yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. Salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan adalah Es Gempol.
Es gempol sendiri merupakan minuman tradisional berkuah dari santan segar yang disajikan dalam keadaan dingin dengan es batu. Untuk isian, es gempol memiliki dua isian utama, yakni gempol dan pleret. Dalam pembuatannya, gempol dan pleret diketahui terbuat dari olahan beras.
Di antara banyaknya toko es Gempol di Pasar Johar, terdapat salah satu toko yang berhasil mencuri perhatian pengunjung, terutama sejak pasar ini dibuka kembali pasca revitalisasi. Toko tersebut adalah Es Gempol Kencono yang terletak di lantai dua Pasar Johar.
Pemilik Es Gempol Kencono, Anhar, menuturkan bahwa dirinya mulai berjualan sejak tahun 2023, tepatnya pada saat Pasar Johar kembali beroperasi setelah sempat ditutup selama 7 tahun akibat kebakaran hebat pada 2015 silam. “Saya jualan es gempol ini sejak tahun 2023, ketika Pasar Johar dibuka kembali. Sebelumnya, pasar ini direvitalisasi cukup lama dan pedagang sempat direlokasi ke sekitaran Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT),” tutur Anhar saat ditemui di lapak dagangannya, dikutip Senin (13/04/2026).
Menariknya, Anhar menceritakan bahwa sebelum berjualan es gempol, dirinya adalah seorang pedagang pakaian. Anhar menyebut bahwa dirinya sempat berjualan pakaian bahkan bertahan melalui penjualan online selama masa penutupan pasar. Namun, perubahan kondisi pasar dan persaingan bisnis membuatnya harus beralih ke bidang bisnis lainnya.
“Dulu saya di Pasar Johar awalnya berjualan pakaian, kemudian saya juga coba berjualan lewat online di berbagai marketplace. Tapi lama-lama tidak bisa bertahan karena persaingan dan potongan platform yang besar,” tambah Anhar.
Keputusannya untuk beralih berjualan kuliner bukan tanpa alasan. Lokasi lapaknya yang kini berada di lantai dua pasar dinilainya kurang strategis untuk kembali menjual pakaian. “Lantai dua ini cenderung sepi untuk pakaian, jadi saya pikir harus cari peluang lain. Akhirnya saya mencoba jualan minuman, meskipun awalnya hanya coba-coba menu kekinian dan ternyata tidak berjalan,” jelasnya.
Dari kegagalan pertamanya, Anhar mulai melirik potensi kuliner tradisional yang memiliki nilai nostalgia yang kuat, yakni es gempol. Adapun es gempol ini dipilih Anhar karena menurutnya kuliner ini menjadi salah satu jajan khas yang sudah lama dikenal di Pasar Johar. “Es gempol itu bisa dibilang jajan klangenan atau sesuatu yang dirindukan gitu. Jadi ini termasuk jajanan zaman dahulu. Di Pasar Johar di zaman dahulu itu sudah ada beberapa yang jual es gempol. Ketika Pasar Johar dibuka kembali, orang-orang itu datang seperti ingin mengulang kenangan masa kecil,” tuturnya.
Meski demikian, Anhar menyebut bahwa perjalanan usaha es gempolnya tidak langsung mulus. Saat awal berjualan, Anhar mengungkap bahwa dirinya sempat mendapat banyak kritik dari pelanggan yang mencoba es gempol kencono. “Awal jualan itu sering dikritik, katanya gempolnya keras atau rasanya belum pas. Tapi dari situ saya belajar, dengar masukkan pembeli, sampai akhirnya menemukan rasa yang sesuai,” ungkap Anhar
Seiring waktu, usaha es gempol kencono ini mulai menunjukkan perkembangan, terutama setelah Anhar memanfaatkan media sosial. Melalui media sosial instagram hingga TikTok, Anhar mulai aktif mempromosikan es gempol kencono. “Pengaruh media sosial sangat terasa, terutama TikTok. Banyak pembeli yang datang karena lihat dari sana, apalagi setelah beberapa influencer datang dan bikin konten di sini,”jelasnya.
Berdasarkan pengamatannya, Anhar menyebut bahwa segmen pembeli es gempol kencono kini tidak hanya didominasi oleh pelanggan lama yang bernostalgia, tetapi juga generasi muda. “Awalnya memang yang datang itu orang-orang yang ingin nostalgia mau makan es gempol lagi. Tapi sekarang Gen Z juga banyak, mereka datang rombongan, nongkrong, bahkan bikin konten di sini,” kata Anhar
Makin ramai dikunjungi, Anhar menyebut bahwa dalam sehari, dirinya bisa menjual es gempol kencono hingga 50-100 porsi di hari biasa, dan meningkat hingga 200 porsi saat akhir pekan atau libur panjang. Dengan harganya yang terjangkau sebesar Rp10.000 per porsi, Anhar mengungkap bahwa es gempol kencono tetap jaga kualitas untuk pelanggan.
“Yang membedakan es gempol kencono dengan yang lain itu terletak dari kualitas yang kita jaga. Kita pakai santan yang harus segar. Jadi, santan diperas hari ini, dijual hari ini, supaya rasa gurihnya tetap terasa. Kedua, selain segar, kita juga menyajikan santan yang kental karena di lidah lebih terasa gurih dibanding santan yang encer,” ungkap Anhar. (Fadya Jasmin Malihah)
Baca Juga
- Es Cendol Elizabeth Masih Diburu Penikmat Kuliner
- Simak Peluang Usaha dan Potensi Profit Bisnis Es Cendol
- Gado-gado dan es cendol goyang lidah warga Dubai





