Holiday Blues: Bedah Logika di Balik Kehampaan Pasca-Liburan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah Anda merasa sedih yang dalam saat pulang dari momen liburan paling menyenangkan? Fenomena ini disebut post-holiday blues. Jika kita analisis dengan logika dan penalaran sederhana, rasa hampa itu bukan sekadar "baper", melainkan akibat kesalahan pola pikir dan gangguan dalam cara berpikir kita.

Tanpa sadar, banyak dari kita sering berpikir pakai silogisme kategoris yang salah gini:

- Premis utama: Semua momen liburan pasti bikin bahagia sepenuhnya.

- Premis pendukung: Saya lagi liburan sekarang.

Kesimpulan: Jadi, saya harus bahagia terus-menerus.

Secara bentuk, ini kelihatan bener, tapi ada kelemahan dasar di premis pertamanya. Liburan memang bisa bikin bahagia, tapi bukan sumber kebahagiaan yang mutlak dan abadi. Jika kita bergantung sepenuhnya pada kondisi sementara seperti itu, maka saat kondisinya hilang, rasa kehilangan pun mudah muncul.

Dengan kata lain, akar masalah holiday blues bukan cuma liburan yang selesai, melainkan karena kita bikin ekspektasi bahwa kebahagiaan harus terus ada selama kondisi menyenangkan itu berlangsung. Saat kenyataan gak sesuai ekspektasi, pikiran kita bentrok, dan timbullah rasa hampa secara emosional.

Selain itu, holiday blues juga diperparah oleh pola pikir False Dilemma, yaitu kebiasaan lihat sesuatu secara hitam-putih. Di sini, banyak orang tanpa sadar bagi hidup jadi dua ekstrem: liburan sebagai simbol kebebasan dan bahagia, sementara rutinitas dianggap sumber tekanan dan bosan. Cara berpikir begini terlalu menyederhanakan kenyataan.

Padahal, rutinitas dan liburan bukan dua hal yang benar-benar bertentangan. Rutinitas gak selalu berarti susah, begitu juga liburan gak selalu bahagia sempurna. Tapi kalau seseorang sudah terbiasa bagi-bagi begitu, balik ke keseharian rasanya seperti kehilangan harta karun—padahal yang berubah cuma jenis aktivitas, bukan makna hidup secara keseluruhan.

Fenomena ini makin relevan di masyarakat modern, terutama setelah libur panjang seperti Lebaran. Banyak orang harus balik dari suasana hangat keluarga ke tekanan kuliah atau kerja. Transisi ini terasa berat bukan cuma karena tugas yang nunggu, tapi karena benturan antara harapan emosional dan pola pikir yang sudah dibentuk sebelumnya.

Oleh karena itu, memahami holiday blues memerlukan kita untuk tidak hanya melihat dari sisi emosional, tetapi juga mengevaluasi pola pikir yang menjadi latar belakangnya. Kebahagiaan sebaiknya tidak hanya diletakkan pada momen istimewa seperti liburan, melainkan juga pada kemampuan untuk memaknai rutinitas sehari-hari secara lebih seimbang. Demikian pula, kehidupan tidak perlu dipahami dalam pembagian sempit antara "menyenangkan" dan "membosankan".

Pada akhirnya, holiday blues mengajarkan bahwa rasa hampa setelah liburan sering kali bukan karena liburannya sudah berakhir, melainkan karena cara kita memahami kebahagiaan yang keliru. Selama kita masih melihat kebahagiaan hanya ada di momen tertentu, setiap akhir momen itu akan terasa seperti kehilangan. Oleh karena itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya suasana hati, tetapi juga logika di balik pemahaman kita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kenaikan Harga Plastik Meluas, Kini Pengusaha Laundry dan Pedagang Es Ikut Terdampak
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Hujan Deras, Plafon UGD Puskesmas Slahung Ponorogo Ambrol
• 12 jam lalurealita.co
thumb
Fakta Penyakit Pes: Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Penanganannya
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Saham Undervalued, INTP Kembali Umumkan Buyback Rp750 Miliar
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Kasus Campak di Kota Jambi Meningkat
• 7 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.