Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. M. Anwar Iskandar, menekankan bahwa persatuan, keadilan, dan perdamaian adalah kebutuhan universal manusia yang tidak bisa diingkari.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ormas Islam dan Halalbihalal 1447 H di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (15/4) malam.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian yang saya muliakan, pesan yang ingin dikirimkan oleh MUI kepada bangsa Indonesia ini dan kepada dunia, seperti yang ada di tagline ini. Kita ingin mengirimkan sebuah pesan betapa pentingnya persatuan, betapa pentingnya keadilan, betapa pentingnya perdamaian dalam hidup di dunia ini," kata Anwar Iskandar.
Anwar Iskandar sempat mengungkapkan perkembangan signifikan ormas Islam yang tergabung dalam MUI. Jika saat didirikan, MUI hanya ditandatangani oleh 10 ormas, kini jumlahnya tumbuh pesat.
"Hari ini di meja Sekretariat sudah tercatat lebih dari 85 ormas Islam Indonesia. Artinya apa? Dari segi kuantitas, ormas-ormas Islam di Indonesia ini semakin besar dan mengikatkan diri dalam sebuah komitmen untuk memberi maslahat kepada bangsa, negara, dan umat," ungkapnya.
Visi Persatuan dan Stabilitas NasionalMenyikapi arah pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, K.H. Anwar Iskandar mengajak para tokoh umat untuk menciptakan situasi yang kondusif guna mencapai kemajuan bangsa. Ia menekankan pentingnya stabilitas sebagai fondasi utama pembangunan.
"Kewajiban kita sebagai tokoh umat Islam menyediakan situasi yang memungkinkan pemimpin negara ini membangun dengan tenang, membangun dengan baik. Kewajiban kita menyediakan situasi yang disebut dengan stabilitas," tegasnya.
Dia memberikan tamsil atau perumpamaan mengenai tanggung jawab seorang pemimpin ormas yang memiliki jutaan pengikut. Ia mengingatkan para pemimpin agar bijak dalam bertindak dan berucap untuk menghindari kegaduhan.
"Kita ini pemimpin yang di belakang kita ini banyak sekali umat. Kita harus hati-hati. Ibarat sopir, kita ini sopir bus, bukan sopir pembalap. Kalau sopir bus ada kecelakaan, yang susah bukan hanya sopir, penumpangnya juga ikut susah. Dibutuhkan kearifan agar apa yang kita ucapkan tidak menimbulkan kegaduhan," jelas Anwar.
Solidaritas Abadi untuk PalestinaAnwar Iskandar juga menyoroti simbol sorban bercorak bendera Palestina yang dikenakan oleh para hadirin.
Menurutnya, sorban tersebut bukan sekadar kain, melainkan simbol bahwa solidaritas Indonesia terhadap perjuangan Palestina tidak akan pernah padam.
"Ini sebagai wujud bukti apa yang sakit dirasakan oleh bangsa Palestina adalah juga sakit di dada kita bangsa Indonesia. Dan itu tidak akan pernah padam sampai kapan pun," ujarnya dengan nada tegas.
Ia pun memberikan semangat agar seluruh pihak tidak merasa pesimis terhadap masa depan Palestina dan terus memberikan dukungan moril serta doa.
"Jangan cengeng, jangan kecil hati. Kita akan terus doakan bangsa Palestina dan orang-orang Gaza, pada saatnya pertolongan Allah akan datang kepada mereka. Nasrun minallahi wa fathun qarib," pungkasnya.





