Bisnis.com, SEMARANG – PT Elecmetal Longteng Indonesia resmi mengoperasikan fasilitas produksinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah.
Perusahaan patungan antara ME Elecmetal asal Chile dan Longteng Special Steel asal China ini menanamkan investasi tahap awal senilai US$50 juta. Langkah ini diyakini memperkuat ekosistem hilirisasi mineral Indonesia melalui penyediaan komponen kunci pengolahan tambang secara domestik.
Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza, menyatakan bahwa proyek ini merupakan representasi kepercayaan mendalam terhadap potensi ekonomi nasional.
"Ini adalah investasi terpenting perusahaan Chile di Indonesia. Sebuah bentuk kepercayaan, keyakinan, masa depan yang jauh lebih kuat, di dunia yang tentu saja menuntut kerja sama untuk masa depan yang saling menguntungkan," kata Mario dalam acara peresmian yang digelar Rabu (15/4/2026).
Mario menyebut kolaborasi ini menyatukan keahlian teknologi dari tiga negara di kawasan Pasifik melalui sinergi ekonomi yang inklusif.
Pabrik tersebut dirancang untuk memproduksi grinding balls atau bola media giling dengan kapasitas mencapai 200.000 ton per tahun. Produk ini merupakan komponen vital dalam proses penggilingan bijih mineral pada industri hilirisasi tambang seperti tembaga dan emas.
Dengan kehadiran produsen domestik, ketergantungan industri pertambangan nasional terhadap produk impor serupa diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
Chief Executive Officer ME Elecmetal, Eugenio Arteaga, menjelaskan bahwa perusahaan membawa teknologi state of the art yang mampu menghasilkan produk dengan standar kualitas global.
Baca Juga
- KEK Batang Gaet Investasi Rp518 Miliar dari Perusahaan Alas Kaki Global
- Perusahaan Plastik Malaysia Ini Bangun Pabrik di KEK Batang, Investasi US$7 Juta
- KEK Industropolis Batang Kebut Pengembangan Lahan Fase 2 & Konektivitas KA
"Kita telah menawarkan ke pasar, di pasar lain, dan kita pasti bisa membawanya ke pasar Indonesia. Salah satunya produk dengan kandungan karbon rendah yang mungkin dikurangkan hingga 60%," jelas Arteaga.
Perusahaan ini direncanakan menyasar pasar domestik dan internasional dengan porsi ekspor yang dominan. Sebanyak 65% hingga 70% dari hasil produksi akan dialokasikan untuk pasar luar negeri, terutama Australia, Amerika Serikat, dan kawasan Asia Pasifik lainnya. Strategi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap perolehan devisa negara melalui ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Realisasi investasi PT Elecmetal Longteng Indonesia tergolong sangat cepat dibandingkan proyek sejenis di kawasan industri lainnya. Proses konstruksi hingga pabrik dinyatakan siap beroperasi secara penuh hanya memakan waktu sekitar 15 bulan sejak penandatanganan perjanjian.
Pabrik ini juga telah mengadopsi teknologi otomasi dan robotik dalam proses produksinya guna memastikan konsistensi kualitas media giling yang dihasilkan. Meskipun menggunakan sistem robotik, operasional perusahaan tetap menyerap sekitar 150 tenaga kerja lokal yang difokuskan pada pengoperasian teknologi tinggi.
Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Ngurah Wirawan, mengapresiasi kecepatan eksekusi investasi yang dilakukan oleh PT Elecmetal Longteng Indonesia.
Menurutnya, kehadiran pabrik ini memberikan kepastian pasokan bagi industri pengolahan mineral di dalam negeri yang terus berkembang. Produk grinding balls yang dihasilkan akan menjadi tulang punggung bagi perusahaan-perusahaan tambang baik di dalam maupun luar negeri.
"Investasi ini adalah substitusi impor yang sangat besar. Memang semakin banyak industri hilirisasi kita yang mengeruk perut bumi ini untuk diolah, Grinding Balls ini adalah yang selama ini kita impor. Jadi, sekarang ini kita produksi sendiri di sini," pungkas Ngurah.
Lebih lanjut, keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi katalisator bagi masuknya lebih banyak investasi dari kawasan Amerika Latin ke Indonesia pada masa mendatang.




