Pahlawan Literasi Masa Kini: Sejiwa dalam Visi Melalui Cinta Kasih Ayah dan Ibu

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jika teringat kadang tersenyum, kadang kaget, dan terheran-heran dengan berbagai pertanyaan anak saya yang masih berumur 6 dan 7 tahun. Masih banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan secara langsung oleh anak kita setiap hari.

Tentu saja pasti saya tidak sendiri, para orang tua yang memiliki seorang anak gen alpha juga pasti sibuk mencari jawaban dari pertanyaan yang setiap hari mereka lontarkan. Generasi Alpha adalah kelompok generasi yang lahir setelah tahun 2010 dan tumbuh di era digital yang didominasi oleh kemajuan teknologi.

Teknologi digital bisa memberikan dampak positif, seperti peningkatan literasi, kreativitas, dan keterampilan belajar mandiri. Namun, dampak negatif juga terlihat, seperti kecanduan digital, penurunan interaksi sosial, dan paparan konten yang tidak sesuai. Sehari-hari anak kita tidak lepas menggunakan teknologi digital, seperti laptop, smartphone, smart TV, dan akses internet.

Dunia digital menjadi dunia yang tidak bisa dipisahkan, porsi berinteraksi dengan dunia digital menjadi lebih besar dan sangat memungkinkan anak untuk mendapatkan informasi secara online. Kita dituntut secara lahir batin dalam memenuhi dan memberikan dasar yang kuat dalam pemahaman teks dan analisis kritis pada anak.

Pemahaman tentang etika dan keamanan dalam dunia literasi harus terus berkali-kali menjadi pengingat. Jangan sampai akses informasi yang sangat mudah didapatkan alih-alih membuat anak bisa mendapatkan suatu informasi yang belum layak mereka konsumsi. Dalam tumbuh kembang anak, keterampilan literasi menjadi salah satu hal yang penting.

Literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan penalaran untuk memahami dan menggunakan informasi dengan efektif dalam berbagai konteks kehidupan yang ada.

Bisakah kita menjadi orang tua yang sejiwa dalam satu visi? Menjadi tempat pertama bagi anak kita mengurai isi pikirannya, hal ini menjadi teramat penting di masa kini. Anak akan merasa bahwa tempat ternyamannya sudah hadir untuk membersamai keterbatasan mereka. Ketika orang tua mengajarkan anaknya untuk mendengarkan dengan baik, mengutarakan perasaannya dengan jujur, atau mengenali emosi dirinya sendiri, merupakan bagian dari literasi emosional.

“Bagaimana hari ini, apakah aman? Ada cerita seru apa hari ini?” pertanyaan berikut sangat diperlukan untuk mengetahui lebih dalam tentang perasaan anak. “Apakah website ini boleh ditonton? Apakah games ini boleh diunduh atau tidak?”, menjelaskan dengan detail manfaat baik dan buruknya juga merupakan literasi media yang perlu kita berikan pemahaman.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa penggunaan teknologi oleh anak-anak tidak hanya difokuskan pada kegiatan digital semata, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan yang mendorong eksplorasi fisik, seperti bermain di luar ruangan, serta interaksi sosial langsung dengan teman sebaya dan keluarga.

Kegiatan-kegiatan ini sangat penting untuk membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia nyata. Selain itu, orang tua juga perlu lebih selektif dalam memilih aplikasi dan media yang berkualitas, yang dapat merangsang perkembangan kognitif anak secara positif, sehingga anak-anak tidak hanya terpapar pada hiburan yang bersifat sementara, tetapi juga materi yang mendidik dan memperkaya pengetahuan mereka. Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua sebagai pahlawan literasi masa kini pada anak:

1. Detoks Digital

Mengatur waktu penggunaan perangkat baik TV maupun Handphone untuk menghindari kecanduan dengan menerapkan disiplin waktu. Setiap weekend bisa dimanfaatkan untuk menikmati alam bebas dan aktivitas luar yang menyenangkan.

2. Membiasakan Membaca Buku

Untuk mendalami kemampuan literasi orang tua bisa mengenalkan buku sejak usia anak sangat dini. Membiasakan membacakan dongeng sebelum tidur, mengenalkan tema-tema pengetahuan alam, dan mewajibkan membaca buku minimal 15 menit setiap harinya jika anak sudah bisa membaca. Selain melatih pemahaman, kebiasaan membaca buku juga menumbuhkan cara berpikir yang logis, membuat anak terus berpikir kritis, sehingga dapat meningkatkan kemampuan literasi sesuai tahapan usianya.

3. Menyediakan Waktu Diskusi yang Cukup Setiap Hari

Hal termahal dan terbaik yang sudah menjadi hak anak juga diimbangi dengan kewajiban orang tua dalam penyediaan waktu yang berkualitas untuk mereka. Dengan intensitas diskusi terbuka setiap harinya, maka kita akan lebih cepat mengenali, menilai dan mengeksplorasi ruang berpikir anak.

Selain itu ruang diskusi yang hidup, hangat dan terbuka juga dapat menjadi pengingat dini jika terjadi beberapa penyimpangan, dari sinilah pengawasan itu dimulai dan dievaluasi setiap harinya.

4. Melibatkan Aktivitas Secara Langsung

Melibatkan anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari bisa menjadi cara orang tua untuk mengenalkan dan menumbuhkan rasa empati. Dengan anak selalu terlibat, maka tanggung jawab antara anak dan orang tua dapat saling terus dibangun setiap hari.

5. Mendidik Anak dengan Penuh Cinta dan Kasih

Menyentuh buah hati dengan bahasa yang penuh ketulusan dan empati, sehingga dapat meningkatkan aspek psikososial dalam diri anak. Proses pendidikan anak haruslah sepenuh hati. Sebab jika hati sudah tersentuh maka lebih mudah untuk mengubah anak dalam cara berpikir dan berperilaku. Anak yang tumbuh penuh dengan cinta kasih akan bisa menghasilkan mental yang lebih baik, kejiwaan yang sehat serta meningkatkan kecerdasan otak, dan kesehatan fisik yang optimal.

Penutup

Untuk membimbing perkembangan anak secara holistik, bahkan dalam konteks dunia digital yang serba cepat dan dinamis memang tidaklah mudah. Memerlukan pemahaman dan penghayatan penuh tentang bagaimana teknologi dapat berdampak pada aspek kognitif maupun psikososial anak.

Pengawasan yang bijaksana terhadap waktu layar, serta pembatasan yang seimbang antara waktu yang dihabiskan untuk kegiatan digital dan interaksi fisik, juga sangat penting. Dengan pendekatan yang seimbang, penuh cinta dan perhatian, semoga dapat membantu anak-anak menavigasi tantangan digital sambil memastikan bahwa mereka tetap mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi tanpa mengorbankan perkembangan sosial dan emosional mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Cuma Bansos, Penerima PKH Bisa Dapat Penghasilan Tambahan di Koperasi Merah Putih
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Peredaran Etomidate di Riau Terbongkar, Kamar Hotel Jadi Tempat Penyimpanan
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
Hadir dalam FGD UGM, Menko Airlangga Soroti Kekuatan Ekonomi dan Diplomasi Perdagangan RI
• 13 jam laludisway.id
thumb
Pramono Soroti Angkot Ngetem Bikin Macet, Bakal Tambah Armada Mikrotrans
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Lepas Timnas ke Thomas & Uber Cup 2026, BNI Tegaskan Komitmen Jaga Tradisi Juara
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.