Jakarta, VIVA – Ketika pasar saham mulai bergejolak dan harga-harga anjlok, banyak investor langsung dihadapkan pada dilema besar, bertahan atau keluar? Pasalnya, situasi krisis kerap memicu kepanikan, terutama bagi investor pemula yang belum terbiasa menghadapi volatilitas tinggi di pasar modal.
Di sisi lain, investor berpengalaman justru melihat kondisi ini sebagai peluang. Mereka memahami bahwa siklus pasar adalah hal yang wajar, di mana penurunan tajam sering diikuti oleh fase pemulihan. Inilah yang membuat investasi saham saat krisis tidak selalu identik dengan kerugian, melainkan juga bisa menjadi momentum strategis.
Meski begitu, penting untuk diingat bahwa risiko tetap ada. Tanpa strategi yang tepat, Anda bisa terjebak dalam keputusan yang merugikan. Sebab itu, memahami cara berinvestasi saham saat krisis menjadi kunci agar Anda tetap bisa bertahan, bahkan meraih keuntungan di tengah ketidakpastian.
Berikut ini beberapa tips investasi saham saat krisis, sebagaimana dirangkum pada Kamis, 16 April 2026.
1. Tetap Tenang dan Hindari Keputusan Emosional
Krisis sering memicu kepanikan massal di pasar. Namun, menjual saham secara terburu-buru justru bisa membuat Anda merealisasikan kerugian. Menjaga emosi tetap stabil adalah langkah awal untuk mengambil keputusan investasi yang lebih rasional.
2. Manfaatkan Harga Murah untuk Akumulasi
Saat krisis, banyak saham berkualitas dijual dengan harga yang lebih rendah. Ini bisa menjadi kesempatan untuk membeli saham dengan valuasi yang lebih menarik. Investor global sering menyebut strategi ini sebagai “buy the dip”.
3. Terapkan Strategi Beli Bertahap
Alih-alih membeli dalam jumlah besar sekaligus, Anda bisa membeli saham secara bertahap. Strategi ini membantu mengurangi risiko salah timing dan membuat harga beli menjadi lebih rata.
4. Prioritaskan Perusahaan dengan Fundamental Kuat
Fokuslah pada perusahaan yang memiliki kinerja keuangan stabil, manajemen yang solid, dan prospek bisnis jangka panjang. Perusahaan seperti ini biasanya lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.
5. Pilih Sektor yang Lebih Tahan Krisis
Tidak semua sektor terdampak sama saat krisis. Beberapa sektor cenderung lebih stabil, seperti kesehatan, konsumsi pokok, serta energi dan utilitas. Sektor-sektor ini tetap dibutuhkan dalam kondisi apa pun.





