Strategi Investasi Saham saat Krisis, Ini Cara Kelola Risiko di Tengah Pasar yang Volatil

viva.co.id
21 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ketika pasar saham mulai bergejolak dan harga-harga anjlok, banyak investor langsung dihadapkan pada dilema besar, bertahan atau keluar? Pasalnya, situasi krisis kerap memicu kepanikan, terutama bagi investor pemula yang belum terbiasa menghadapi volatilitas tinggi di pasar modal.

Di sisi lain, investor berpengalaman justru melihat kondisi ini sebagai peluang. Mereka memahami bahwa siklus pasar adalah hal yang wajar, di mana penurunan tajam sering diikuti oleh fase pemulihan. Inilah yang membuat investasi saham saat krisis tidak selalu identik dengan kerugian, melainkan juga bisa menjadi momentum strategis.

Baca Juga :
Investasi Emas saat Krisis, Untung Besar atau Sekadar Amankan Aset? Ini Faktanya!
Dukung Iklim Investasi, Notaris RI Didorong Kedepankan Profesionalisme dan Integritas

Meski begitu, penting untuk diingat bahwa risiko tetap ada. Tanpa strategi yang tepat, Anda bisa terjebak dalam keputusan yang merugikan. Sebab itu, memahami cara berinvestasi saham saat krisis menjadi kunci agar Anda tetap bisa bertahan, bahkan meraih keuntungan di tengah ketidakpastian.

Berikut ini beberapa tips investasi saham saat krisis, sebagaimana dirangkum pada Kamis, 16 April 2026.

1. Tetap Tenang dan Hindari Keputusan Emosional

Krisis sering memicu kepanikan massal di pasar. Namun, menjual saham secara terburu-buru justru bisa membuat Anda merealisasikan kerugian. Menjaga emosi tetap stabil adalah langkah awal untuk mengambil keputusan investasi yang lebih rasional.

2. Manfaatkan Harga Murah untuk Akumulasi

Saat krisis, banyak saham berkualitas dijual dengan harga yang lebih rendah. Ini bisa menjadi kesempatan untuk membeli saham dengan valuasi yang lebih menarik. Investor global sering menyebut strategi ini sebagai “buy the dip”.

3. Terapkan Strategi Beli Bertahap

Alih-alih membeli dalam jumlah besar sekaligus, Anda bisa membeli saham secara bertahap. Strategi ini membantu mengurangi risiko salah timing dan membuat harga beli menjadi lebih rata.

4. Prioritaskan Perusahaan dengan Fundamental Kuat

Fokuslah pada perusahaan yang memiliki kinerja keuangan stabil, manajemen yang solid, dan prospek bisnis jangka panjang. Perusahaan seperti ini biasanya lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.

5. Pilih Sektor yang Lebih Tahan Krisis

Tidak semua sektor terdampak sama saat krisis. Beberapa sektor cenderung lebih stabil, seperti kesehatan, konsumsi pokok, serta energi dan utilitas. Sektor-sektor ini tetap dibutuhkan dalam kondisi apa pun.

Baca Juga :
Saham Fesyen Mewah Nyungsep, Hermes Ambles Dua Digit Imbas Konflik Timur Tengah
Seskab Teddy Bongkar Isi Pembicaraan Prabowo dan Macron: Bahas Energi-Investasi Ekonomi
BRI Siap Tebar Dividen Rp52,1 Triliun ke Pemegang Saham, Catat Tanggalnya!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadi Tersangka, Ketua Ombudsman Hery Susanto Diduga Terima Uang Rp1,5 Miliar dari Korupsi Tambang Nikel
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Badan Bahasa Perkuat Kolaborasi Pelestarian Bahasa Daerah di Bangka Belitung
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Whoosh Tembus 15 Juta Penumpang, KCIC Catat Lonjakan Okupansi hingga 99 Persen
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Setelah Menteri dan Kepala Daerah, Giliran Ketua DPRD Retret di Akmil Magelang
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Pecah! Authenticity x Macawa Fest Berlangsung Meriah di Makassar
• 13 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.