JAKARTA, KOMPAS.TV- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan penyakit katastropik atau penyakit berat dapat memicu penurunan kesejahteraan masyarakat secara drastis dalam waktu relatif singkat.
Wakil Kepala BPS Sonny Hari Budiutomo mengatakan kondisi kesehatan menjadi salah satu faktor utama yang membuat status ekonomi keluarga berubah dengan cepat.
“Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) ini terus dinamis. Kalau kita lihat tadi, mereka yang berada dalam kondisi penyakit katastropik ternyata 62.000, itu desilnya turun lagi,” kata Sonny dalam rapat bersama Komisi IX DPR di Jakarta, Rabu (15/4).
Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Ungkap 10 Persen Orang Terkaya Masih Terima Subsidi Iuran JKN
Ia menjelaskan, dinamika kesejahteraan masyarakat di Indonesia sangat tinggi karena berbagai faktor, terutama biaya kesehatan yang besar ketika seseorang menderita penyakit serius.
"Jadi, dalam waktu tiga sampai enam bulan perubahan kesejahteraan itu bisa terjadi, terutama karena masalah penyakit,” ujarnya dikutip dari Breaking News Kompas TV.
Kondisi tersebut membuat pembaruan data sosial ekonomi menjadi sangat penting agar pemerintah dapat menyesuaikan program bantuan secara tepat sasaran.
Baca Juga: Wamenhaj Jelaskan Konsep War Tiket Haji untuk Percepat Antrean Keberangkatan Jemaah
Ia menerangkan, saat ini BPS tengah melakukan pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pada triwulan II 2026 untuk menangkap perubahan kondisi kesejahteraan masyarakat di lapangan.
Dari sekitar 11 juta peserta bantuan iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional, sebanyak 8,8 juta peserta masih perlu diverifikasi ulang oleh BPS bersama mitra seperti Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial.
Penulis : Dina Karina Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- bps
- penyakit katastropik
- bpjs kesehatan
- biaya pengobatan penyakit katastropik





