FAJAR, SEMARANG –Di tengah ketatnya persaingan Pegadaian Championship musim 2025/2026, ancaman degradasi tidak lagi sekadar bayang-bayang bagi PSIS Semarang. Ia telah menjelma menjadi kemungkinan nyata—sesuatu yang perlahan mendekat seiring dinamika internal tim dan kekuatan para pesaing yang justru semakin matang di fase krusial.
Apa yang membuat situasi PSIS terasa lebih genting bukan semata karena performa mereka sendiri, tetapi karena konteks kompetisi yang berubah. Di saat PSIS kehilangan stabilitas, tim-tim lain justru menemukan bentuk terbaiknya.
Salah satu contoh paling nyata adalah PSS Sleman. Di bawah arahan Pieter Huistra, Laskar Sembada menunjukkan perkembangan yang signifikan. Meski baru saja menelan kekalahan dari Barito Putera, secara keseluruhan performa mereka dalam beberapa laga terakhir tetap menunjukkan konsistensi.
Huistra menghadirkan pendekatan yang terstruktur—tim bermain lebih disiplin, organisasi pertahanan lebih rapi, dan transisi serangan berjalan lebih efektif. Bahkan dalam kekalahan sekalipun, PSS tetap mampu menunjukkan identitas permainan yang jelas. Ini yang membedakan tim yang sekadar bertahan dengan tim yang benar-benar bersaing.
Kekalahan di Stadion 17 Mei, Banjarmasin, memang sempat mengguncang mental tim. Namun respons yang ditunjukkan justru mencerminkan kedewasaan. Alih-alih terpuruk, Huistra menegaskan pentingnya menjaga fokus dan konsistensi, terutama dalam menghadapi tiga laga krusial ke depan. Dalam kompetisi yang seketat ini, kemampuan untuk bangkit dengan cepat sering kali menjadi pembeda antara tim papan atas dan tim yang terjerembab.
Sementara itu, Barito Putera sendiri menghadirkan ancaman dengan karakter yang berbeda. Jika PSS mengandalkan struktur dan konsistensi, Barito bermain dengan apa yang bisa disebut sebagai “DNA juara”—mentalitas bertanding yang terbentuk dari pengalaman panjang di kompetisi.
Narasi ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh pelatih mereka, Stefano Cugurra, sosok yang dikenal luas sebagai arsitek kesuksesan di sepak bola Indonesia. Bersama klub-klub sebelumnya seperti Persija Jakarta dan Bali United, pelatih yang akrab disapa Teco ini telah membuktikan kemampuannya membangun tim juara.
Jejak itu kini terasa di Barito. Disiplin, efisiensi, dan ketajaman dalam memanfaatkan peluang menjadi ciri khas permainan mereka. Seperti yang terlihat saat menghadapi PSS Sleman, pertandingan berjalan relatif seimbang, tetapi satu momen kecil mampu dimaksimalkan menjadi gol penentu. Inilah ciri tim dengan mentalitas pemenang: tidak harus dominan, tetapi selalu efektif.
Di sisi lain, pesaing lain seperti Persipura Jayapura juga terus menempel ketat di papan atas. Mereka membawa pengalaman, sejarah, dan daya juang yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam situasi seperti ini, kompetisi tidak lagi hanya soal kualitas individu, tetapi tentang siapa yang paling siap secara kolektif.
Dan di sinilah masalah utama PSIS mulai terlihat.
Secara performa, mereka memang tidak buruk. Bahkan dalam enam laga terakhir, catatan mereka cukup stabil. Namun stabilitas tanpa arah yang jelas sering kali menjadi jebakan. Ketika tim lain berkembang dengan identitas kuat, PSIS justru kehilangan momentum akibat perubahan di kursi pelatih.
Kepergian Andri Ramawi di tengah kompetisi menjadi pukulan yang tidak kecil. Ia mungkin bukan pelatih dengan nama besar, tetapi dalam beberapa pekan terakhir berhasil menjaga keseimbangan tim. Ketika fondasi itu mulai terbentuk, justru terjadi pergantian yang memaksa tim kembali beradaptasi dari awal.
Kini, tanggung jawab berada di tangan Anang Dwita sebagai pelatih sementara. Namun waktu yang dimiliki sangat terbatas. Dengan hanya tiga pertandingan tersisa, hampir tidak ada ruang untuk membangun ulang sistem. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga apa yang sudah ada—dan berharap itu cukup.
Masalahnya, di fase seperti ini, kompetisi tidak memberi ruang bagi harapan semata.
Tim-tim seperti PSS Sleman dan Barito Putera terus bergerak maju dengan identitas yang jelas. Mereka tahu bagaimana bermain, kapan menekan, dan bagaimana mengunci kemenangan. Sementara PSIS masih mencari keseimbangan di tengah perubahan.
Ancaman degradasi pun menjadi semakin nyata, bukan karena mereka paling lemah, tetapi karena mereka tertinggal dalam hal stabilitas dan arah.
Dalam sepak bola modern, bertahan di liga bukan hanya soal mengumpulkan poin, tetapi tentang memiliki sistem yang mampu bertahan di bawah tekanan. Dan saat ini, PSIS berada di titik di mana sistem itu sedang diuji—bahkan mungkin belum sepenuhnya terbentuk.
Tiga pertandingan tersisa akan menjadi penentu segalanya.
Apakah PSIS mampu bertahan di tengah gelombang yang semakin tinggi? Ataukah mereka justru tenggelam ketika tim lain sudah menemukan arah? Di tengah persaingan yang semakin kejam, satu hal menjadi jelas: bertahan bukan lagi soal cukup baik, tetapi tentang siapa yang paling siap hingga detik terakhir.





