JAKARTA, KOMPAS — Kinerja industri tekstil dan produk tekstil diperkirakan tertekan dalam jangka pendek seiring terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik dan pergeseran rantai pasok global. Pemerintah didorong untuk membantu industri, tidak hanya bahan baku, tetapi juga intervensi fiskal.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengungkapkan, ketegangan geopolitik, disrupsi perdagangan, dan pergeseran rantai pasok dunia menjadi tantangan yang mendorong pelaku industri untuk semakin efisien dan adaptif.
Selain itu, sejumlah pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional juga menghadapi tekanan terhadap rantai pasok global yang dipicu dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada distribusi bahan baku ataupun produk jadi, termasuk meningkatnya waktu pengiriman (sailing time).
”Gangguan ini berpengaruh pada ekspor. Kalau pasokan bahan baku menurun, produksi dan ekspor juga ikut terdampak,” kata Jemmy, seusai pembukaan pada pameran Indo Intertex & Inatex 2026, Rabu (15/4/2026), di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Pameran tekstil dan garmen Indo Intertex & Inatex diselenggarakan pada 15-18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran ke-22 itu bertema ”Where Textile Meets Innovation”, yang diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang merepresentasikan 1.500 merek global, serta menargetkan kehadiran lebih dari 35.000 pengunjung dari 29 negara.
Meski belum merinci besaran penurunan, API memperkirakan kinerja ekspor TPT akan mengalami tekanan dalam jangka pendek. Meski demikian, permintaan domestik dinilai masih cukup kuat dan menjadi penopang bagi industri. Permintaan dan penjualan produk jadi TPT itu terutama saat periode libur dan hari raya.
Industri TPT bergantung pada bahan baku turunan minyak bumi, terutama serat sintetis atau poliester. fluktuasi harga minyak dunia mendorong lonjakan harga bahan baku berbasis petrokimia, seperti paraxylene (PX) dan monoethylene glycol (MEG).
Paraxylene, contohnya, merupakan bahan baku utama poliester. Selain itu, tergantungnya bahan baku impor dari Timur Tengah juga mengganggu pasokan untuk kebutuhan industri TPT.
Di tenggah gangguan pasokan bahan baku itu, lanjut Jemmy, pelaku industri berupaya mencari alternatif sumber pasokan, salah satunya dari Malaysia. ”Dari laporan, mereka (pelaku industri) sudah mendapatkan sebagian kecil dari Petronas, dari Malaysia,” ujarnya.
Direktur Eksekutif API Danang Girindrawardana menambahkan, meski sudah ada laporan mengenai kenaikan harga bahan baku yang berkisar 30-40 persen, sejauh ini untuk produk jadi baju domestik belum ada kenaikan harga.
Sementara itu, terkait potensi kenaikan harga pakaian jadi domestik, Danang belum bisa memprediksi berapa persen dan kapan waktu kenaikan harga produk tersebut.
”Bahan baku polimer (sintetis-poliester) naik seperti kenaikan harga bahan baku untuk plastik. Meski begitu, untuk produk jadi baju domestik kita masih sama, harganya belum naik,” ujar Danang.
Hal ini juga ditegaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta. Industri TPT mengalami tekanan harga bahan baku hingga pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Meski ada hambatan bahan baku itu, katanya, belum sepenuhnya berpengaruh ke industri hilir. Efek domino dari bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap. Sektor ritel yang menjual produk jadi diperkirakan akan menyesuaikan harga. Redma memperkirakan penyesuaian harga di tingkat ritel dapat mencapai 10 persen.
”Minggu ini kenaikan sudah sampai di kain. Jadi, di garmen-garmen kira-kira minggu depan dan di ritel sekitar dua minggu lagi,” ujar Redma.
APSyFI berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada pelaku industri, khususnya di sektor TPT, berupa kebijakan fiskal, seperti mengurangi atau membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Intervensi kebijakan fiskal itu tentu akan meringankan tekanan pelaku industri dari kondisi ketidakpastian global.
Di tengah tekanan tersebut, kata Jemmy, pelaku industri terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk merumuskan langkah strategis. Kolaborasi antara sektor hulu dan hilir juga diperkuat guna memperbaiki rantai pasok dalam negeri.
Ia optimistis dan meyakini, dengan dukungan pemerintah yang saat ini berupaya membuka akses sumber bahan baku serta diplomasi perdagangan, tekanan terhadap industri manufaktur, termasuk TPT, dapat lebih terkendali dalam waktu mendatang.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tantangan yang dihadapi industri TPT tidak ringan. Kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, dan fluktuasi permintaan pasar internasional menjadi faktor yang terus membayangi kinerja sektor TPT.
Pemerintah, lanjut Agus, terus mencermati dinamika global, termasuk perubahan struktur rantai pasok dan kebijakan perdagangan negara mitra. Dalam merespons hal tersebut, pemerintah secara aktif melibatkan pelaku industri dan asosiasi dalam merumuskan kebijakan yang adaptif dan berbasis kondisi riil di lapangan.
Agus juga menekankan bahwa pentingnya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku industri di tengah tekanan pasokan global, khususnya untuk komoditas petrokimia, seperti plastik dan nafta.
Aspek penentuan harga menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan industri, terutama bagi pelaku usaha skala kecil yang rentan terhadap fluktuasi biaya bahan baku.
Selain menjaga harga, pemerintah juga mengupayakan ketersediaan pasokan bahan baku. Salah satunya melalui koordinasi dengan pemasok untuk memastikan adanya ruang penyesuaian margin serta menjajaki skema dukungan yang memungkinkan industri tetap memperoleh bahan baku dengan harga kompetitif.
Agus menyatakan, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan sejumlah negara guna mengamankan pasokan bahan baku tersebut.
Adapun strategi penguatan industri TPT difokuskan pada perluasan akses pasar domestik dan ekspor, serta penguatan insentif fiskal dan nonfiskal, guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong transformasi industri melalui adopsi teknologi industri 4.0, penerapan prinsip keberlanjutan, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi.
Di tengah pergeseran rantai pasok global dan meningkatnya permintaan terhadap produk tekstil berkelanjutan, Agus menilai terdapat peluang relokasi investasi yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
”Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Agus mengatakan, industri TPT telah menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian global. Dari sisi investasi, industri ini mampu menarik dana sebesar Rp 20,23 triliun, mencerminkan masih kuatnya kepercayaan pelaku usaha.
Kinerja industri TPT nasional tetap terjaga di tengah tekanan global sepanjang 2025. Sektor ini mencatatkan pertumbuhan 3,55 persen secara tahunan (year on year), dengan nilai ekspor mencapai 12,08 miliar dolar AS dan surplus 3,45 miliar dolar AS, terutama ditopang ekspor pakaian jadi. Adapun dari sisi ketenagakerjaan, sektor TPT menyerap 3,96 juta tenaga kerja atau sekitar 19,48 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan.





