BPS Ungkap Alasan Banyak Warga yang Keluar dari Daftar PBI BPJS Kesehatan

idxchannel.com
20 jam lalu
Cover Berita

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan alasan banyak masyarakat yang dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI) program BPJS Kesehatan.

BPS mengungkapkan alasan banyak masyarakat yang dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI) program BPJS Kesehatan. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan alasan banyak masyarakat yang dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI) program BPJS Kesehatan. Masalah utamanya terletak pada kesenjangan antara mereka yang berhak masuk PBI dan kuota yang terbatas.

Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo mengatakan, kelompok masyarakat yang layak masuk dalam kategori PBI, yakni desil 1 sampai 5 sesuai Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) mencapai 140,9 juta jiwa. Sementara kuota PBI saat ini hanya mencakup 96,8 juta orang.

Baca Juga:
Gandeng TNI AL, BPJS Kesehatan Akan Sediakan Kapal Rumah Sakit untuk Wilayah 3T

“Artinya, lebih banyak orang yang harusnya di-cover dibanding kuotanya,” ujar Sonny dalam rapat Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Dia menekankan, kesenjangan tersebut mencerminkan adanya ketidakseimbangan yang cukup lebar antara jumlah warga yang membutuhkan dengan ketersediaan kapasitas program bantuan pemerintah.

Baca Juga:
Gandeng Kemendes dan Kemenkop, BPJS Kesehatan Perluas Jangkauan JKN hingga ke Desa

Dalam penjelasannya, Sonny menyebutkan BPS selalu memperbaharui data DTSEN secara berkala. Hingga April 2026, cakupan data tersebut telah mencapai 289,3 juta individu dari 95,3 juta keluarga, dengan angka pemutakhiran sebesar 17,51 persen.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 lalu, tingkat pembaharuan data hanya berada di angka 9-10 persen. Peningkatan ini merupakan langkah pemerintah dalam meningkatkan ketepatan sasaran bagi penerima bantuan sosial.

Kepada DPR, Sonny juga mengatakan, kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat dinamis. Status kesejahteraan seseorang bisa berubah dengan cepat, terlebih bagi kelompok yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Dengan demikian, proses verifikasi dan pemutakhiran data terus diintensifkan melalui pengecekan lapangan (ground check) di berbagai wilayah. Sejauh ini, tahap pertama telah merampungkan pengecekan terhadap 106.153 individu, disusul dengan tahap kedua yang menargetkan jutaan data lainnya.

Kendati demikian, dalam praktiknya, tidak setiap individu dalam kategori desil 1 hingga 5 harus bergantung penuh pada bantuan negara, karena sebagian di antaranya sudah memiliki alternatif skema pembiayaan kesehatan.

“Memang, walaupun berada di desil 1 sampai 5, sebagian individu itu sudah ada yang membayar iuran secara mandiri. Ada juga PNS golongan 1, golongan 2 yang juga sudah di-cover dan seterusnya,” katanya.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Jerat Ketua Ombudsman Hery Susanto Tersangka Suap Rp 1,5 Miliar
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswa FHUI, Polda Metro Koordinasi dengan UI Kumpulkan Bukti
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Israel Hancurkan Jembatan Vital di Lebanon, Puluhan Ribu Warga Terisolasi
• 4 jam laludetik.com
thumb
Lapor Prabowo, Bahlil Sebut RI Dapat Pasokan Minyak dari Rusia
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Bergerak Datar dengan Penguatan Terbatas
• 17 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.