Pesawat tempur militer Israel melakukan dua serangan beruntun yang menargetkan Jembatan Qasmiyeh yang menghubungkan wilayah Tyre dengan kota Sidon. Jembatan penyeberangan terakhir di Lebanon itu hancur.
Dilansir Anadolu Agency, peristiwa itu terjadi Kamis (16/4/2026) waktu setempat. Menurut media Lebanon, Israel menargetkan infrastruktur di negara tersebut.
Serangan drone sebelumnya juga menargetkan area yang sama di dekat jembatan sebelum serangan hari Kamis terjadi. Jembatan Qasmiyeh adalah salah satu jembatan penyeberangan paling strategis di Lebanon selatan, menghubungkan sektor barat, tengah, dan timur dan berfungsi sebagai jalur utama bagi orang, kendaraan, dan barang.
Jembatan ini sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel sebelum akhirnya hancur total. Israel terus melakukan serangan di seluruh Lebanon setelah serangan lintas batas oleh Hizbullah pada 2 Maret, meskipun ada perjanjian gencatan senjata pada November 2024.
Otoritas kesehatan Lebanon mengatakan lebih dari 2.160 orang telah tewas, dengan lebih dari 7.000 orang terluka dan lebih dari satu juta orang mengungsi sejak Maret.
Dilansir CNN, menurut media pemerintah Lebanon serangan ke Jembatan Qasmiyeh memutus akses puluhan ribu penduduk di selatan dari jalur bantuan penting. Lapor Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA)pasukan Israel melancarkan dua serangan udara berturut-turut di Jembatan Qasmiyeh.
"Sebelum serangan udara ini, sebuah drone juga telah melakukan dua serangan terpisah di dekat jembatan yang sama," kata NNA.
Menurut tentara Lebanon, setidaknya satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka akibat serangan itu.
Serangkaian ledakan besar terlihat di cakrawala dekat jembatan pada hari Kamis, dalam rekaman dari kejadian setelahnya, saat awan asap besar membubung melalui padang rumput hijau.
Militer Israel mengklaim kepada CNN bahwa pasukan "tidak menargetkan" jembatan tersebut, tetapi menambahkan bahwa mereka memang menyerang "di sekitarnya."
(dek/ygs)





