Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Parah dari 2023

celebesmedia.id
21 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait potensi kekeringan pada musim kemarau tahun 2026.

Berdasarkan analisis terbaru, kondisi iklim tahun ini diprediksi akan jauh lebih kering dibandingkan rata-rata periode 30 tahun terakhir, dengan durasi yang lebih panjang dan datang lebih awal.

Meski diprediksi tidak akan se-ekstrem fenomena tahun 1997 atau 2015, BMKG menegaskan bahwa intensitas kekeringan tahun 2026 akan melampaui kondisi yang terjadi pada tahun 2023 lalu.

Saat ini, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih terpantau di fase netral pada angka +0,28. Namun, masyarakat perlu waspada memasuki semester kedua tahun 2026. BMKG memprediksi adanya peluang sebesar 50–80 persen berkembangnya fase El Nino kategori lemah hingga moderat.

Kombinasi antara musim kemarau alami dan fenomena El Nino inilah yang memicu kekhawatiran. Jika keduanya terjadi bersamaan, dampak kekeringan di Indonesia akan meningkat secara signifikan dibandingkan kemarau biasa.

Berdasarkan  historis kekeringan yang pernah melanda tanah air, yang terparah adalah di tahun  1997-1998, saat itu Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghancurkan sekitar 9,7 juta hektar lahan menurut data akademisi. Bank Dunia mencatat kerugian ekonomi mencapai Rp394 miliar di 8 provinsi, yang membengkak hingga Rp1,3 triliun jika menghitung dampak kesehatan jangka panjang.

Kekeringan juga pernah terjadi di tahun 2015. Kekeringan akibat El Nino kuat berdampak pada 12 provinsi dan 22 juta jiwa. Puncaknya terjadi pada Oktober-November, menyebabkan krisis air di 526 kecamatan.

 Kemarau lebih kering juga terjadi di tahun 2019, di mana 46 persen Zona Musim di Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang 6 dasarian (2 bulan) dari normalnya, berdampak pada 1.969 desa.

Sebagai pembanding terdekat, tahun 2023 mencatat 23.451 hektar sawah terdampak kekeringan dan 6.964 hektar mengalami gagal panen (puso) hingga bulan Agustus.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan bahwa kondisi 2026 memang diprediksi lebih kering dari 2023. "Kemarau ekstrem seperti 1997 dan 2015 memang masih jauh lebih parah, namun kondisi 2026 tetap menuntut kewaspadaan ekstra karena lebih kering dari tahun lalu," ujarnya, dikutip dari Liputan6, Kamis (16/4) 

Beberapa wilayah yang secara historis memiliki kerentanan tinggi dan perlu pengawasan ketat tahun ini meliputi:

Prediksi durasi kemarau yang lebih panjang menjadi warning khususnya di sektor pertanian. Belajar dari data 2023 di mana ribuan hektar sawah mengalami puso, pemerintah mengimbau petani di wilayah terdampak untuk menyesuaikan pola tanam.

Selain ancaman gagal panen, potensi kebakaran lahan juga meningkat seiring dengan lebih keringnya vegetasi. Masyarakat diharapkan terus memantau pembaruan informasi dari laman resmi BMKG guna melakukan langkah mitigasi yang tepat sasaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ombudsman Minta Maaf Usai Ketua Hery jadi Tersangka di Kejagung
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Disiplin Bertahan Bawa Malaysia U-17 Menang Atas Indonesia
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
KPK Sita Surat Undur Diri yang Terpaksa Dibikin Para Kepala OPD Tulungagung
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Tim SAR Temukan Ekor Heli PK-CFX yang Hilang Kontak di Sekadau
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Heboh Napi Asyik Mampir ke Coffee Shop di Kendari, Ditjenpas Kelabakan
• 18 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.