Pantau - China dan Spanyol menegaskan komitmen bersama untuk menjunjung norma internasional dan menolak praktik hukum rimba dalam hubungan global usai kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke Beijing pada 11–15 April 2026.
Komitmen Multilateralisme dan Hubungan BilateralJuru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan kedua negara memiliki pandangan yang sama dalam menjaga prinsip keadilan dan tatanan global.
"China dan Spanyol adalah negara-negara yang menjunjung tinggi prinsip dan keadilan, dan keduanya memilih sisi yang benar dalam sejarah. Kedua negara perlu bersama-sama menjunjung tinggi multilateralisme sejati, dan menolak kemunduran ke arah hukum rimba," ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, PM Pedro Sánchez bertemu Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, serta pejabat tinggi lainnya untuk memperkuat kerja sama strategis.
Guo menambahkan kedua negara sepakat meningkatkan saling percaya di bidang politik serta memperkuat komunikasi dan koordinasi diplomatik.
"Selama empat tahun terakhir, terlepas dari bagaimana lanskap internasional berkembang, China dan Spanyol telah mengutamakan hubungan bilateral dalam merancang kebijakan luar negeri," ungkapnya.
Kerja Sama Ekonomi dan Dinamika GlobalKedua negara juga menandatangani 15 dokumen kerja sama di berbagai sektor, termasuk ekonomi, perdagangan, pendidikan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
China menyatakan kesiapan untuk meningkatkan impor produk Spanyol serta mendorong investasi perusahaan China di negara tersebut.
Selain itu, Spanyol disebut siap berperan sebagai jembatan antara China dan Eropa dalam memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan.
Dalam konteks geopolitik, Spanyol menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militernya dalam operasi terhadap Iran.
Sikap tersebut memicu respons Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol.
PM Sánchez menegaskan negaranya tidak ingin terlibat dalam operasi militer yang dinilai ilegal dan merugikan.




