Lapak Buku Pondok Cina, Ruang Nostalgia Mahasiswa UI yang Pernah Jadi Pelanggan Setia

kompas.com
19 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, sebuah lapak buku lama berdiri sederhana di pinggir jalan.

Di antara deru kendaraan, lalu-lalang mahasiswa, hingga gemuruh kereta yang melintas, lapak itu tetap bertahan sebagai saksi perubahan zaman literasi kampus.

Di balik rak-rak yang menumpuk hingga ke atas, tempat ini bukan sekadar ruang jual beli buku.

Lapak tersebut menjadi titik temu lintas generasi yakni dosen, alumni, mahasiswa, hingga warga sekitar yang pernah menjadikannya bagian dari perjalanan akademik.

Salah satu yang memiliki ingatan kuat tentang lapak buku Pondok Cina adalah Muh Azis Muslim, dosen sekaligus Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI).

Baca juga: Di Tengah Gempuran PDF, Lapak Buku Pondok Cina Masih Bertahan, Ini yang Dicari Mahasiswa

Saat dihubungi, ia mengaku pengalaman berburu buku di kawasan tersebut membawanya kembali ke awal 1990-an, ketika masih menjadi mahasiswa.

“Senang sekali, ini membuat saya nostalgia masa-masa tahun 90-an,” ujar Azis saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Ia mengenang, pada masa itu mahasiswa sangat bergantung pada buku fisik.

Lapak-lapak buku murah, termasuk yang kemudian tumbuh di sekitar Pondok Cina, menjadi akses penting bagi kebutuhan literasi.

Menurutnya, tradisi berburu buku murah sudah berlangsung lama, salah satunya melalui kegiatan Pekan Buku Murah yang digelar di kampus dengan menghadirkan pedagang dari Pasar Senen.

“Waktu itu kami sering mengadakan Pekan Buku Murah, mendatangkan pedagang dari Senen. Itu rutin, bisa dua kali setahun,” kata dia.

Azis menyebut kebiasaan tersebut kemudian mendorong para pedagang mendekat ke area kampus seperti Pondok Cina dan Stasiun UI.

Pada masa itu, buku menjadi sumber utama referensi akademik. Namun, ia melihat telah terjadi pergeseran besar saat ini.

Mahasiswa kini lebih banyak mengandalkan e-book dan PDF karena lebih ringan, murah, dan mudah diakses.

Baca juga: Buku Tak Pernah Mati, Cerita Penjual Buku Pondok Cina Bertahan meski Dihantam Pandemi

“Kalau dulu buku fisik jadi referensi utama, sekarang sudah bergeser ke digital. Tapi buku fisik belum sepenuhnya ditinggalkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebutuhan terhadap buku fisik tetap ada, terutama pada mata kuliah tertentu yang mewajibkan referensi cetak.

Lapak Buku sebagai Ruang Ingatan Akademik

Bagi Mifah (45), alumni Fakultas Ekonomi UI angkatan 2004, lapak buku Pondok Cina merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa pada masanya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Dulu Pondok Cina itu kayak tempat wajib. Kalau dosen kasih daftar bacaan, kita pasti ke sana dulu,” kata Mifah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
74 Tahun Kopassus: Menjawab Tantangan Hybrid Warfare dan Multidomain Operation Warfare
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BOR RSUD Arifin Achmad Tembus 91,54 Persen, Tekanan Pasien Meningkat
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Semeru erupsi lima kali dengan tinggi letusan hingga 1.200 meter
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Klaim Ekspor Rotan Cirebon Belum Terpukul Geopolitik Global
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Sensus Ekonomi 2026: Fondasi yang Sering Diabaikan dalam Kebijakan
• 18 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.