Sensus Ekonomi 2026: Fondasi yang Sering Diabaikan dalam Kebijakan

kompas.com
16 jam lalu
Cover Berita

KETIDAKTEPATAN sasaran bantuan sosial masih menjadi persoalan berulang di Indonesia. Di tengah anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah, tidak sedikit masyarakat yang seharusnya berhak justru luput dari jangkauan.

Program bantuan dan dukungan usaha kerap hadir, tetapi tidak selalu menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Kita sering menganggap ini sebagai kegagalan kebijakan. Padahal, persoalan mendasarnya kerap lebih sederhana—dan lebih mendasar: data yang digunakan belum cukup kuat untuk mencerminkan realitas.

Data ekonomi kita masih menghadapi persoalan klasik: tidak sepenuhnya mutakhir, belum terintegrasi, dan sering tertinggal dari dinamika di lapangan.

Sementara itu, dunia usaha bergerak jauh lebih cepat—muncul usaha berbasis rumah tangga, ekonomi digital, hingga pekerjaan fleksibel yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Ketika data tertinggal, kebijakan pun berjalan dengan gambaran yang tidak utuh. Akibatnya, kebijakan berisiko meleset. Anggaran terserap, tetapi dampaknya tidak maksimal.

Dalam kondisi seperti ini, kebijakan tidak hanya menjadi kurang efektif, tetapi juga berpotensi menciptakan ketidakadilan baru. Tanpa data yang baik, kebijakan pada dasarnya hanyalah asumsi yang dipaksakan.

Baca juga: Bekerja Tanpa Mengorbankan Iman: Menata Ulang Etika Dunia Kerja Indonesia

Di titik inilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi penting. Ia bukan sekadar kegiatan pendataan rutin, melainkan upaya memperbaiki fondasi kebijakan ekonomi nasional.

Sensus ini hadir untuk menjawab satu kebutuhan mendasar: menghadirkan potret dunia usaha yang lebih utuh, lebih mutakhir, dan lebih relevan dengan kondisi kekinian.

Berbeda dengan satu dekade lalu, struktur ekonomi hari ini jauh lebih kompleks. Aktivitas ekonomi tidak lagi selalu hadir dalam bentuk toko, pabrik, atau kantor.

Ia bisa hadir di rumah, di ponsel, atau bahkan di ruang digital yang tidak terlihat. Pelaku usaha tidak lagi terbatas pada entitas formal, tetapi juga individu yang bekerja secara mandiri melalui platform daring.

Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 dirancang dengan cakupan yang lebih luas. Aktivitas ekonomi digital mulai dicatat lebih sistematis, begitu pula usaha berbasis rumah tangga yang selama ini kerap luput dari pendataan.

Bahkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan kini menjadi bagian yang turut dihitung, sehingga potret ekonomi yang dihasilkan menjadi lebih menyeluruh.

Namun, secanggih apa pun metode yang digunakan, kualitas data tetap bergantung pada satu hal yang sering dilupakan: kejujuran dan partisipasi masyarakat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sensus ekonomi bukan sekadar proses pengumpulan data, tetapi juga proses membangun kepercayaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sosialisasi Beasiswa LPDP 2026 Digelar di Universitas Papua
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
MMA Indonesia Gelar Smarties Unplugged dan Creative Summit 2026 di Jakarta
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo-Dasco Bicara Empat Mata di Istana, Bahas Situasi Politik hingga Ekonomi Nasional
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Ketua Ombudsman yang Baru Menjabat 6 Hari Ditangkap Kejagung, DPR: Kami Terkejut dan Syok
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Helikopter Jatuh di Sekadau, Kalbar
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.