Terungkap Kisah di Balik Negosiasi AS-Iran, Delegasi Iran Sepenuhnya Tidak Memiliki Wewenang untuk Mengambil Keputusan Hingga Sempat Menemui Jalan Buntu

erabaru.net
18 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan, namun kontak antara kedua pihak masih terus berlanjut. Wakil Presiden AS, JD Vance, bersama sejumlah sumber, baru-baru ini mengungkap detail di balik layar negosiasi tersebut, yang berlangsung penuh dinamika.

JD Vance, yang memimpin delegasi AS ke Pakistan untuk perundingan, mengatakan kepada Fox News bahwa delegasi Iran tidak memiliki wewenang untuk mengambil keputusan. Proses ini juga membuat pihak AS memahami siapa sebenarnya yang memegang kendali keputusan di Teheran.

Vance menjelaskan bahwa tim Iran yang hadir saat itu harus kembali ke Teheran untuk mendapatkan persetujuan dari Pemimpin Tertinggi atau pihak lain sebelum dapat menerima syarat dari AS. Karena tidak dapat mencapai kesepakatan saat itu, kedua pihak akhirnya kembali ke negara masing-masing.

Sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut juga mengatakan kepada Reuters secara anonim bahwa semua peserta dilarang membawa ponsel saat memasuki ruang utama perundingan. Hal ini memaksa Vance dan perwakilan lainnya, seperti Ghalibaf, untuk keluar ruangan saat jeda guna menyampaikan informasi kepada negara masing-masing.

Di tengah jalannya perundingan, kedua pihak sempat optimistis bahwa kesepakatan bisa tercapai, dengan sekitar 80% isu telah mencapai konsensus. Namun pada akhirnya, negosiasi menemui jalan buntu pada beberapa isu yang tidak dapat diputuskan di tempat.

Setelah itu, suasana perundingan menjadi tegang. Meskipun perwakilan Pakistan berusaha meredakan situasi, kedua pihak tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.

Baru pada Minggu pagi suasana sedikit membaik, namun perbedaan masih tetap ada. Sumber dari pihak AS menyatakan bahwa Iran belum sepenuhnya memahami bahwa tujuan utama AS adalah mencapai kesepakatan yang “memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir”. Sementara itu, salah satu kekhawatiran Iran adalah ketidakpercayaan terhadap niat Amerika.

Vance menegaskan bahwa “garis merah” AS tetap sama, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini mencakup penghapusan seluruh uranium yang telah diperkaya di dalam negeri Iran, serta pembentukan mekanisme verifikasi yang dapat dipercaya. Ia menyebutkan bahwa hal ini merupakan perbedaan terbesar dalam negosiasi saat ini.

Selain itu, kedua pihak juga membahas hak pelayaran di Selat Hormuz.

 “Terus terang, Iran mencoba mengubah syarat dalam negosiasi, dan ini adalah salah satunya. Kami telah menyatakan dengan jelas bahwa hal tersebut tidak dapat diterima,” kata Vance. 

Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan pemblokiran seluruh pelabuhan Iran, serta memperingatkan bahwa kapal cepat Iran tidak boleh mendekati garis blokade militer AS, atau akan menghadapi tindakan militer.

Menurut laporan Associated Press, kedua pihak sedang membahas kemungkinan mengadakan putaran kedua perundingan sebelum perjanjian gencatan senjata berakhir pada 22 April. Presiden Trump sebelumnya juga mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi pihak AS dengan harapan dapat mencapai kesepakatan.

Dilaporkan oleh reporter NTD, Li Jiayin dari Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terungkap Kisah di Balik Negosiasi AS-Iran, Delegasi Iran Sepenuhnya Tidak Memiliki Wewenang untuk Mengambil Keputusan Hingga Sempat Menemui Jalan Buntu
• 18 jam laluerabaru.net
thumb
Video: BGN Angkat Bicara : Motor Listrik Bukan Pemborosan
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bawa 8 Penumpang, Helikopter PK-CFX Hilang Kontak, Diduga Jatuh di Sekadau Kalbar
• 13 jam laludisway.id
thumb
Dubes Faisal Pastikan Kondisi Saudi Aman, Jadwal Haji 2026 Sesuai Rencana
• 5 jam laludetik.com
thumb
Kejagung Resmi Tetapkan Agung Winarno Tersangka Baru TPPU Zarof Ricar
• 11 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.