AS Membekukan Ekspor Iran, Pakar : Fluktuasi Jangka Pendek, Tren Jangka Panjang Kembali ke Supply-Demand

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat mengumumkan pemblokiran pelabuhan Iran, yang langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak sempat menembus USD 100 per barel. Para ahli menyatakan bahwa langkah ini tidak hanya menghantam urat nadi ekonomi Iran, tetapi juga berdampak pada negara-negara pengimpor utama seperti Tiongkok. Namun, apakah dampaknya akan berlanjut, masih bergantung pada kemampuan penyesuaian rantai pasokan serta arah geopolitik ke depan.

EtIndonesia. Setelah perundingan AS-Iran gagal, pihak AS beralih ke tekanan intensitas tinggi. Komando Pusat AS mengumumkan pemblokiran semua kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, namun sengaja tidak menyentuh hak pelayaran di Selat Hormuz. 

Strategi ini menciptakan situasi “tidak menutup selat, tetapi mengunci ekspor”, sehingga tekanan difokuskan pada sisi ekspor Iran, sekaligus menghindari gangguan besar terhadap pelayaran global.

Inti dari langkah ini adalah mengendalikan konflik pada level “pemutusan aliran ekonomi”, bukan “blokade jalur pelayaran” secara menyeluruh.

 Para ahli menyebutkan, jika Selat Hormuz ditutup, sekitar 20% pengiriman energi global akan terdampak. Sebaliknya, dengan menargetkan ekspor Iran, AS dapat melemahkan sumber pendapatan Iran sekaligus menekan risiko pasar lepas kendali.

Dari sisi pasokan, Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, dengan stok terapung di laut mendekati 180 juta barel. Jika ekspor terhambat, pasokan akan “dibekukan” dalam jangka pendek, sehingga menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran—yang menjadi pendorong langsung lonjakan harga minyak di atas USD 100.

Dampak yang lebih dalam adalah perubahan dalam logika operasional pasar energi. Analisis menunjukkan bahwa sebelumnya Iran mencoba menantang tatanan yang ada melalui pengaturan jalur pelayaran dan rute. Namun kali ini, AS langsung menyerang dari sisi pasokan, dengan tujuan merebut kembali kendali atas pasar.

 “Dalam proses Iran mengenakan biaya pada kapal-kapal yang melintas, mereka juga mendorong penggunaan yuan atau mata uang kripto sebagai pengganti dolar untuk transaksi. Ini secara langsung melemahkan posisi dolar sebagai mata uang internasional. Selain itu, Iran membatasi jumlah tanker yang dapat melintas setiap hari, sehingga banyak kapal terpaksa tertahan di kawasan Teluk, yang sangat mengganggu ritme perdagangan dan logistik global,” kata komentator urusan internasional, Jason. 

Analisis juga menunjukkan bahwa dari sisi permintaan, dampak pertama akan dirasakan di Asia yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah.

Jason menambahkan :  “Banyak maskapai di Asia terpaksa menyesuaikan atau mengurangi penerbangan. Selain itu, industri pupuk dan berbagai sektor petrokimia juga mengalami krisis di pasar internasional. Pemerintah Iran tampaknya ingin menggunakan alasan pembersihan ranjau dan risiko keamanan untuk mendefinisikan ulang siapa yang mengontrol arus di selat, serta siapa yang menetapkan aturan perdagangan global.”

Namun, apakah dampaknya akan meluas sangat bergantung pada durasi konflik. Para ekonom memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat mendorong inflasi AS sekitar 2%, menunjukkan bahwa guncangan energi dapat dengan cepat merambat ke inflasi, tetapi belum tentu berkembang menjadi krisis struktural jangka panjang.

 “Jika kita melihat kembali krisis energi di Timur Tengah pada tahun 1970-an, kita melihat dua krisis besar. Saya pikir krisis kali ini lebih mirip dengan Perang Teluk pertama tahun 1990–1991, di mana setelah perang berakhir, rantai pasokan minyak dan harga dengan cepat kembali ke kondisi normal sebelum konflik,” kata ekonom UCLA, Yu Weixiong. 

Para ahli menilai bahwa gelombang ini lebih merupakan “guncangan pasokan jangka pendek”, bukan “terputusnya pasokan jangka panjang”. Jika konflik mereda atau pasokan alternatif tersedia, harga dan logistik berpeluang cepat kembali stabil. (Hui)

Dilaporkan oleh reporter NTD, Yi Xin dan Qiu Yue.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Komoditas: Batu Bara Menguat, Nikel dan Timah Melemah
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pelaku Usaha Perikanan Perkuat Strategi Tembus Pasar Internasional
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Umumkan Buka Kembali Selat Hormuz, Trump: Bukankah Ini Lebih Baik daripada Berperang?
• 21 jam laluharianfajar
thumb
35+ Contoh Lomba Hari Kartini yang Cocok untuk Semua Kalangan
• 21 jam laludetik.com
thumb
Polisi Gerebek Toko Kelontong yang Jual Obat Keras di Jaksel, 3 Orang Diringkus
• 58 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.