Blokade AS Terhadap Pelabuhan Iran: Kapal Tanker Minyak Tiongkok Berbalik Arah – Pukulan Besar bagi Mesin Propaganda Tiongkok

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

Pada hari pertama blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran, beberapa kapal dagang terpaksa berbalik arah, termasuk kapal dari Tiongkok. Media daratan Tiongkok sempat mengklaim dengan gembar-gembor bahwa kapal tanker berhasil menembus blokade, namun segera “terbantahkan fakta”, karena data menunjukkan kapal-kapal tersebut justru berbalik di perairan kunci dan mundur. 

Analisis menyebutkan bahwa blokade ini tidak hanya menghantam ekspor minyak Iran, tetapi juga secara langsung memukul pasokan energi Tiongkok, dengan dampak yang terus meluas.

EtIndonesia. Pada hari kedua blokade, setidaknya tiga kapal tanker melewati Selat Hormuz. Namun, ketiga kapal tersebut tidak menuju pelabuhan Iran, sehingga tidak terpengaruh oleh blokade AS.

 “Area yang diblokade (oleh militer AS) berada di sebelah timur Selat Hormuz, bukan di titik sempitnya. Dan blokade ini bukan berarti semua kapal tidak boleh lewat, melainkan menargetkan kapal yang berasal dari atau menuju pelabuhan Iran. Artinya, meskipun Iran mengizinkan kapal lewat, AS tetap tidak mengizinkannya,” kata peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi. 

Pada hari pertama blokade, media Tiongkok sempat mengklaim bahwa dua kapal tanker Tiongkok berhasil menembus blokade. Salah satunya adalah “Fuxing”, yang membawa sekitar 250.000 barel metanol dengan tujuan Tiongkok Kapal lainnya, berbendera Botswana namun dimiliki Tiongkok, diduga mencoba menyamarkan identitas.

Namun klaim tersebut segera dipatahkan oleh data pelayaran. Data pelacakan kapal secara real-time menunjukkan bahwa kedua kapal tersebut berbalik arah segera setelah mencapai titik tikungan di selat.

Komando Pusat Militer AS juga mengeluarkan pernyataan resmi untuk meluruskan informasi: pada hari pertama blokade, tidak ada satu pun kapal yang berhasil melewati garis blokade AS. Sebaliknya, enam kapal dagang mengikuti instruksi militer AS untuk berbalik arah dan kembali menuju sebuah pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Pembawa acara program “Wenzhao Talks”, Wen Zhao, mengatakan:  “Keseriusan situasi ini adalah bahwa selama blokade berlangsung, Tiongkok tidak dapat membeli setetes pun minyak dari Iran. Bahkan minyak yang dimuat dari Uni Emirat Arab atau Arab Saudi pun, jika saat melewati selat membayar biaya transit kepada Iran, tetap akan dicegat oleh militer AS di sisi lain. Ini berarti seluruh impor minyak Tiongkok dari Teluk Persia bisa terhenti.”

Selat Hormuz sangat penting bagi keamanan energi Tiongkok.  Berdasarkan data tahun 2025, minyak mentah yang diangkut melalui selat ini menyumbang hampir setengah dari impor minyak Tiongkok, dan sekitar 40% dari total konsumsi minyaknya.

Jika jalur ini terganggu, hal itu akan langsung menyentuh urat nadi ekonomi Tiongkok serta stabilitas sistem keuangan internasional, dan berpotensi memicu efek domino ekonomi.

“Ini setara dengan secara tidak langsung memblokir jalur Tiongkok untuk memperoleh energi murah dari kawasan tersebut. Selain itu, bisa memicu krisis ekonomi berantai yang mempengaruhi para pekerja di sektor terkait. Hal ini juga dapat mendorong kenaikan harga pupuk, pangan, dan kebutuhan pokok lainnya,” ujar wakil peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Hsieh Pei-hsueh. 

“Sebelumnya Iran juga meminta pembayaran biaya transit dengan yuan atau mata uang kripto, yang dipandang sebagai peluang internasionalisasi yuan. Intervensi militer AS sekarang memaksa negara-negara memilih antara hubungan dengan Iran atau risiko sanksi AS, yang secara langsung menekan upaya ekspansi yuan di tingkat global,” tambahnya. 

Meski Tiongkok dan Iran telah bekerja sama mengembangkan jalur transportasi kereta api untuk mengurangi ketergantungan pada jalur laut, sejauh ini belum ada bukti bahwa Iran menyalurkan minyak ke Tiongkok melalui jalur darat tersebut.

Di sisi lain, dampak ekonomi dari langkah militer AS terhadap Iran terlihat signifikan. Perkiraan awal menunjukkan bahwa setelah pelabuhan Iran diblokade, Iran dapat kehilangan lebih dari 400 juta dolar AS per hari. (Hui)

Dilaporkan oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KAI Ingatkan Bahaya Jalur Rel dan Ancaman Pidana bagi Pelanggar
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Hasil Kunjungan Prabowo ke Dua Negara Super Power Rusia dan Prancis, Apa Saja?
• 2 menit laluokezone.com
thumb
Jamu Experience Cafe di PIK2, Jurus Mendekatkan Jamu dengan Gaya Hidup Anak Muda
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Demo di Depan Gedung DPR, Roy Suryo Tuntut Jokowi Tunjukkan Ijazah ke Publik | KOMPAS PETANG
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Reformasi Polri Rampung, Tunggu Arahan Presiden
• 14 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.