Jamu Experience Cafe di PIK2, Jurus Mendekatkan Jamu dengan Gaya Hidup Anak Muda

jpnn.com
15 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, TANGERANG - Citra jamu sebagai minuman tradisional yang hanya akrab di generasi tua pelan-pelan mulai bergeser. Kini, jamu juga dekat kian dengan kalangan muda.

Di Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2), Tangerang, Banten, jamu tampil dengan wajah lebih segar, estetik, dan mendekati gaya hidup anak muda. Lewat konsep Jamu Experience Cafe di Acaraki Jamu PIK2, PT Acaraki Nusantara Persada mencoba membawa jamu ke ruang yang lebih modern.

BACA JUGA: PIK2 Operasikan Smart Road Sweeper dari Italia, Satu Unit Setara 100 Pekerja

Di Jamu Experience Cafe, pengunjung tidak hanya memesan minuman, tetapi juga bisa melihat langsung proses peracikan, mengenal bahan herbal, dan memahami ramuan tradisional itu bukan sekadar soal rasa, melainkan juga tradisi dan pengetahuan.

Menurut Jony Yuwono selalu Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada, sebenarnya generasi muda tidak pernah benar-benar jauh dari jamu. Dia menyebut kalangan muda hanya membutuhkan pendekatan yang lebih relevan dengan keseharian mereka.

BACA JUGA: Forum Ustazah se-Jabodetabek Kunjungi Menara Syariah PIK2, Nono Sampono Bicara soal Pilar Ekonomi Umat

Jony menuturkan pengalamannya ketika membuka acaraki atau gerai penjualan jamu pada 2018. Saat itu yang datang kebanyakan kalangan sepuh.

“Menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat kafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja,” tutur Jony.

BACA JUGA: Tembus Panggung Dunia, IDD PIK2 Bawa Desain Indonesia ke Salone del Mobile Milano 2026

Oleh karena itu, Acaraki Nusantara Persada melalui Jamu Experience Cafe memperlihatkan proses pembuatan jamu secara langsung di depan pelanggan. “Supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut,” imbuh Jony.

Lebih jauh Jony berpendapat modernisasi jamu tidak boleh memutus hubungan dengan nilai-nilai lama yang membuatnya bertahan selama ini. Menurut dia, pembaruan justru harus menjadi jalan supaya warisan leluhur tersebut tetap hidup.

“Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup,” ucapnya.

Di acaraki, berbagai bahan tradisional, seperti kunyit, jahe, beras kencur, dan daun kelor tampil dalam bentuk yang lebih ramah bagi lidah generasi muda. Ada beras kencur dengan susu, kunyit asam dengan es krim, moringa calate yang memanfaatkan teknik seduh ala matcha, hingga jahe yang diolah dengan metode Vietnam drip.

Pilihan itu membuat jamu tidak lagi terasa kaku. Pengunjung juga bisa menyesuaikan racikan sesuai selera masing-masing.

“Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jamu,” imbuh Jony.

Menurut Jony, Jamu Experience Cafe menghadirkan racikan jamu sesuai keinginan pelanggan. Dengan demikian, racikan jamu terasa nyaman di lidah.

“Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silakan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kami meraciknya supaya bisa nyaman dulu di lidah, agar bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelas Jony.

Salah satu pengunjung, Raka Mahendra (22), mengaku baru kali ini mencoba jamu dengan serius. Awalnya mahasiswa asal Tangerang itu menganggap jamu sebagai minuman yang pahit dan tidak cocok untuk anak muda.

“Selama ini saya tahunya jamu itu, ya, minuman yang diminum karena disuruh orang tua. Pas ke sini, ternyata tampilannya keren, proses bikinnya juga menarik. Saya coba jahe dengan teknik vietnam drip dan ternyata enak banget, enggak seberat yang saya bayangkan,” kata Raka.

Menurut Raka, konsep seperti acaraki membuat jamu terlihat lebih masuk akal untuk jadi bagian dari rutinitas harian.

“Biasanya saya minum kopi, tetapi setelah coba ini, saya merasa jamu juga bisa jadi pilihan lain. Ada sensasi rempah, tetapi tetap terasa modern. Buat saya yang enggak punya kebiasaan minum jamu, ini jadi pengalaman baru,” ujarnya.

Lewat pendekatan seperti melalui Jamu Experince Cafe, jamu tampaknya bukan lagi minuman masa lalu. Di tangan pelaku kreatif, ia justru menemukan cara baru untuk hadir di tengah generasi sekarang.

Kepala Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar melihat langkah modernisasi seperti itu penting selama tetap dibangun di atas fondasi mutu dan keamanan. Menurut dia, inovasi berbasis bahan alam hanya akan kuat apabila disertai kepatuhan pada standar.

“Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan,” ucapnya.

Taruna berpencapat bahwa jamu harus terus didorong bergerak dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Indonesia, kata dia, memiliki modal besar untuk itu karena kaya akan tanaman herbal.

“Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju,” tutur Taruna.(ikl/jpnn.com)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertama di Indonesia, Mazda Dirikan Dealer Sekaligus Training Center di PIK2


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Transisi Bisnis Hijau di Tengah Dinamika Global, Pupuk Indonesia Perkuat Ketahanan Produksi
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Gugatan Delpedro Terkait 3 Pasal KUHP Baru di MK Kandas
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Siswa Tenteng 5 Senpi Lepaskan Tembakan di Sekolah Turki, 9 Orang Tewas
• 16 jam laludetik.com
thumb
Bojan Hodak Minta Fasilitas Latihan Persib Ditingkatkan demi Standar Profesional
• 13 jam lalubola.com
thumb
Kemenhaj Percepat Distribusi Koper Jemaah Tepat Waktu
• 19 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.