Ekspansi Bulog ke Arab Saudi, Rencana Gudang Beras di Kampung Haji Dikaji

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Perum Bulog membuka peluang pembangunan gudang pangan di kawasan Kampung Haji, Arab Saudi, sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan bagi jemaah haji dan umrah sekaligus memperluas pasar ekspor beras nasional.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan rencana pembangunan gudang tersebut masih dalam tahap perencanaan dan menunggu keputusan dari pimpinan.

Rizal menyatakan pihaknya siap merealisasikan proyek tersebut apabila mendapat ruang dan dukungan dari otoritas terkait, termasuk melalui koordinasi lintas kementerian seperti Kementerian Haji (Kemenhaj) dan Danantara.

“Kami kalau dikasih ruang, kami bangun. Sekarang kami kan belum tahu dikasih ruangnya atau tidak. Tinggal kami rapat dulu. Kan belum rapat, rapat khusus ini belum,” kata Rizal seusai melakukan monitoring ketersediaan pangan di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga : PIS dan PGN Siapkan Ekosistem Maritim Rendah Karbon

Rizal sebelumnya menyatakan Bulog telah mengantongi izin dari Kemenhaj untuk membangun gudang beras berkapasitas 1.000 ton di kawasan Kampung Haji. Bulog juga menyiapkan lahan seluas 2–3 hektare untuk pembangunan fasilitas tersebut.

Rencananya, gudang ini tidak hanya diperuntukkan bagi penyimpanan beras, tetapi juga akan difungsikan sebagai pusat logistik berbagai komoditas pangan. Namun demikian, proyek tersebut belum memasuki tahap pembukaan lahan. Nantinya, gudang tersebut direncanakan menjadi kawasan berikat sehingga tidak dikenakan pajak. 

Di sisi lain, Bulog juga mulai mengekspor beras ke Arab Saudi sebanyak 2.280 ton beras untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215.000 jemaah haji Tanah Air. Ekspor ini dilakukan secara bertahap dengan spesifikasi beras premium berkualitas tinggi, di mana tingkat pecahan (broken) 4%.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah tengah mendorong ekspor beras seiring dengan meningkatnya produksi dalam negeri. Dia menyebut surplus produksi beras tidak hanya akan digunakan untuk cadangan pangan nasional, melainkan juga diarahkan untuk pasar ekspor, termasuk Arab Saudi yang memiliki permintaan besar.

“Bukan hanya untuk jemaah Indonesia, tetapi juga untuk jemaah Indonesia haji dan umrah, dan jemaah lain selain Indonesia karena jemaahnya besar,” kata Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Menimbang Untung dan Rugi

Pengamat Pertanian dari Core Indonesia Eliza Mardian mengemukakan skema ini memungkinkan pengiriman dalam skala besar, menekan biaya darurat, serta meningkatkan kontrol kualitas. Namun, dia mengingatkan keuntungan tersebut akan diimbangi oleh tingginya biaya tetap, mulai dari investasi lahan, operasional gudang, hingga biaya penyimpanan.

Eliza menilai proyek pembangunan gudang Bulog di Arab Saudi tergolong realistis, namun memiliki risiko eksekusi yang tinggi. Menurutnya, terdapat sejumlah sinyal positif seperti ekspor awal beras ke Arab Saudi, potensi dukungan lahan, serta dorongan politik dari pemerintah.

“Tetapi tantangan strukturalnya juga besar, mulai dari regulasi ketat pemerintah Arab Saudi, kompleksitas koordinasi lintas lembaga seperti Kementerian Agama dan penyedia katering, hingga potensi ketidaksesuaian kapasitas Bulog sebagai lembaga yang selama ini berfokus pada stabilisasi pangan domestik,” kata Eliza ketika dihubungi, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga : Bulog Usul DMO Minyakita Jadi 65%, Kemendag Pastikan Alokasi 35% Masih Batas Minimal

Lebih lanjut, dia memandang proyek tersebut akan lebih layak jika dikembangkan sebagai strategi ekspor pangan berkelanjutan, tidak hanya untuk musim haji, tetapi juga mencakup pasar umrah dan konsumsi diaspora Indonesia di Arab Saudi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai pembangunan gudang Bulog di Arab Saudi berpotensi memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari menjamin ketersediaan beras berkualitas bagi jemaah, meningkatkan efisiensi logistik, serta membuka peluang pasar ritel internasional.

“Bisa membuka peluang ekspor ke pasar umum Arab Saudi karena adanya minat dari ritel besar di sana,” ujar Esther kepada Bisnis.

Meski demikian, Esther mengingatkan adanya berbagai risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari tingginya biaya operasional, potensi gangguan keamanan akibat konflik di Timur Tengah, hingga tantangan menjaga kualitas beras selama penyimpanan jangka panjang.

Selain itu, Indef juga menilai terdapat risiko logistik, ketidakpastian kebijakan impor negara tujuan, serta potensi penumpukan stok jika serapan pasar tidak optimal.

Menurutnya, pembukaan gudang beras di luar negeri memiliki risiko yang cukup tinggi, terutama terkait potensi penurunan kualitas beras akibat penyimpanan dalam jangka waktu lama yang dapat memicu kerusakan.

“Risiko lainnya mencakup ketidakpastian politik/perang, biaya logistik tinggi, potensi penolakan buyer, serta keterbatasan kapasitas gudang dan gangguan pasokan global,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Jarang Posting Makanan di Medsos
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Narapidana Korupsi yang Pergi ke Coffee Shop Dipindahkan ke Nusakambangan
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Sebut Peran Iran Hampir Selesai, Bursa Saham Bakal Melambung
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jemaah Haji Bawa Uang Rp 100 Juta Lebih Wajib Lapor Bea Cukai
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Kemlu Sebut Dua Kapal Pertamina Dapat Lampu Hijau Iran Lewati Selat Hormuz
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.