REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Pemerintah mempercepat target elektrifikasi nasional dengan melibatkan industri dalam negeri. Langkah ini ditempuh untuk memperluas akses listrik sekaligus menekan ketergantungan impor perangkat ketenagalistrikan.
Kolaborasi ini juga bertujuan mendukung efisiensi energi dan penggunaan produk lokal. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, rasio elektrifikasi saat ini telah mencapai sekitar 98 persen. Pemerintah menargetkan seluruh wilayah teraliri listrik dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Penggunaan Trasportasi Listrik Disebut Tekan Subsidi BBM
TransJakarta Ungkap 1 Unit Bus Listrik Hemat Subsidi BBM Rp302 Juta per Tahun
Apresiasi Pelanggan! Electronic City Serahkan Hadiah Mobil Listrik 'Spectacular Surprise 2' Gold
“Kita dari tahun 2025 sudah mulai, sampai dengan 2029 kita akan menargetkan elektrifikasi untuk seluruh wilayah mencapai sekitar 100 persen,” kata Wamen ESDM, di Tangerang, Kamis (16/4/2026).
Menurut Yuliot, percepatan elektrifikasi dilakukan melalui program listrik desa yang menyasar wilayah belum terjangkau jaringan. Pada 2025, program ini mencakup sekitar 1.516 desa sebagai bagian dari target tahunan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan sekitar 10 ribu desa akan memperoleh akses listrik hingga 2029. Program ini menjadi tulang punggung pemerataan energi di berbagai daerah.
Kementerian ESDM juga menggandeng industri manufaktur peralatan listrik untuk memastikan kesiapan pasokan. Kunjungan ke sektor industri dilakukan guna melihat kapasitas produksi dalam negeri dalam mendukung program tersebut.
Yuliot menilai, kebutuhan elektrifikasi skala besar akan meningkatkan permintaan infrastruktur dan peralatan listrik. Hal ini membuka peluang bagi industri nasional untuk memperkuat peran dalam rantai pasok.
Pemerintah juga mendorong efisiensi energi melalui pengembangan bangunan hijau serta pemanfaatan energi baru terbarukan, termasuk PLTS atap di sektor industri. Selain itu, regulasi disiapkan untuk memperkuat keselamatan instalasi listrik melalui penggunaan perangkat pengaman.
“Kalau ini bisa diproduksi di dalam negeri, kita tidak memberikan kelonggaran untuk melakukan impor,” kata Yuliot.
Pemerintah menilai penguatan industri nasional menjadi kunci dalam percepatan elektrifikasi. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses listrik sekaligus mendukung transisi energi.