Wamen Stella Dorong AI untuk Prediksi Tsunami dan Masalah Spesifik RI

katadata.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan, pengembangan kecerdasan buatan atau AI di Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti tren global. Indonesia harus memiliki keberanian untuk menentukan masalah spesifik nasional yang ingin diselesaikan, misalnya memprediksi bencana tsunami dan mengelola kekayaan biodiversitas Indonesia.

“Kalau kita berbicara AI, saya merasa kurang melihat pertanyaan spesifik AI itu bisa dipakai untuk apa di Indonesia. AI itu adalah alat untuk mendapatkan jawaban,” kata Stella dalam acara Inovation Data Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).  

Dalam paparannya, Stella menganalogikan AI sebagai alat untuk mencari jarum di tumpukan jerami. Dengan volume data yang luar biasa besar (jerami), AI bertugas memilah informasi krusial (jarum) yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan strategis.

Stella menyatakan selama ini pembahasan mengenai AI di tanah air sering kali terlalu umum. Ia mendorong agar Indonesia mulai merumuskan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang hanya bisa dijawab melalui kekuatan pengolahan data AI.

“Jadi, kita harusnya berbicara secara tepat pertanyaan apa yang kita ingin jawab untuk Indonesia. Saya merasa kita kurang membicarakan persisnya pertanyaan apa yang bisa dijawab oleh AI,” ujarnya.

Ia memberikan contoh konkret mengenai potensi AI dalam memprediksi bencana alam yang sering melanda Indonesia. "Misalnya, kapan dan di mana akan ada tsunami lagi di Indonesia? Apakah itu bisa diprediksi dengan AI? Begitu banyak faktor-faktor, itulah yang harus kita bangun,” kata Stella.

Indonesia Lemah di Algoritma tapi Punya Data Melimpah

Ketika membedah anatomi AI, Stella mengatakan, teknologi ini terdiri atas tiga pilar utama yaitu data, algoritma, dan processing power. Ia mengakui Indonesia masih tertinggal dalam penguasaan algoritma canggih dan kekuatan pemrosesan. Namun, Indonesia memiliki aset yang tidak dimiliki banyak negara maju yaitu melimpahnya data.

"Algoritma kita tidak punya, processing power kita tidak punya. Tapi data? Kita punya luar biasa banyak," ujarnya.

Menurutnya, jika Indonesia mampu menjaga, merapikan, dan mengamankan data nasional, maka data tersebut bisa menjadi posisi tawar yang kuat untuk membeli algoritma dan kekuatan pemrosesan dari luar negeri.

Lebih lanjut, Stella mengingatkan pentingnya kedaulatan digital. Ia mengkritik kebiasaan instansi atau perusahaan yang masih menyimpan data sensitif di layanan penyimpanan asing tanpa proteksi yang memadai seperti di Google Folder.

“Inilah yang saya bicarakan sehingga Indonesia ini menjadi memang sasaran empuk. Inilah kenapa kita sering di-attack secara siber karena kita tidak menjaga data kita,” kata Stella.

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buruh Gelar Demo Pra-Mayday di Gedung DPR Hari Ini
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Optimalkan Pemulihan Aset, BPA Kejaksaan Serahkan Kapal Rampasan ke KKP
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Pembangunan Kereta Api Bakal Jadi Sejarah Penting bagi Papua
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Aksi Dukung Andrie Yunus, Massa Tuntut Peradilan Sipil
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polisi Bongkar Praktik Jual Beli Obat Keras di Toko Kelontong Jaksel, Tiga Pelaku Ditangkap
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.