Para ahli intelejen mengatakan Iran kemungkinan besar akan beralih dari sistem navigasi yang berbasih di Amerika Serikat yakni Global Positioning System atau GPS menjadi Sistem navigasi BeiDou Navigation Satellite System milik Cina.
Mantan Direktur Intelijen Luar Negeri Prancis, Alain Juillet mengatakan dalam acara podcast independen Tocsin Prancis pada pekan ini, ada kemungkinan besar Iran telah memiliki akses ke sistem navigasi satelit BeiDou. Alasannya diduga untuk meningkatkan serangan presisi terhadap sasaran militer Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Salah satu kejutan dalam perang ini adalah rudal Iran lebih akurat dibandingkan dengan perang yang terjadi delapan bulan lalu, menimbulkan banyak pertanyaan tentang sistem panduan rudal-rudal ini,” kata Juillet dikutip dari Aljazeera, Rabu (15/4).
Meskipun Israel dan negara-negara Teluk telah mencegat banyak rudal yang datang, beberapa di antaranya telah menembus pertahanan negara-negara tersebut. Hal ini menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang signifikan.
Jika Iran beralih, AS tidak dapat berbuat banyak untuk mengganggu sistem BeiDou milik Cina. Meski begitu, Iran belum mengkonfirmasi kabar tersebut.
Cina meluncurkan versi terbaru dari sistem navigasi satelitnya yang disebut-sebut sebagai pesaing GPS pada tahun 2020. Presiden Cina Xi Jinping secara resmi meresmikan BeiDou pada Juli 2020 di Balai Besar Rakyat di Beijing.
Cina mulai mengembangkan sistem navigasi satelitnya sendiri setelah krisis Taiwan pada 1996, karena khawatir Washington dapat membatasi akses ke GPS di masa depan.
Menurut situs web pemerintah Cina untuk BeiDou, tujuan sistem ini adalah untuk melayani dunia dan memberi manfaat bagi umat manusia. Sistem Cina ini menggunakan lebih banyak satelit daripada sistem navigasi lainnya.
Menurut data yang dikumpulkan oleh tim data AJ Labs Al Jazeera, sistem GPS AS memiliki 24 satelit yang menyediakan data. Namun sistem Cina mengandalkan 45 satelit. Dua sistem navigasi global utama lainnya adalah GLONASS Rusia dan sistem Galileo Uni Eropa, yang masing-masing memiliki 24 satelit.
Analis berbasis militer Brussels, Elijah Magnier menjelaskan bahwa tingkat akurasi BeiDOu bergantung pada jenis layanan yang digunakan. “Sinyal sipil terbuka memberikan akurasi posisi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas yang tersedia untuk pengguna yang berwenang dapat menawarkan presisi yang jauh lebih presisi,” kata Magnier kepada Aljazeera.
Sistem BeiDou dapat digunakan untuk mengemudikan rudal balistik Iran dengan akurasi yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Magnier menjelaskan bahwa hingga saat ini, rudal dan drone Iran secara luas diyakini bergantung pada sistem navigasi inersia.
“Sistem ini menentukan posisi senjata dengan mengukur percepatan dan gerakan melalui sensor onboard seperti giroskop dan akselerometer. Navigasi inersia menawarkan keuntungan berupa sistem mandiri dan tahan terhadap gangguan eksternal,” ujar Magnier.
Magnier menambahkan, biasanya rudal menggunakan navigasi inersia untuk mempertahankan lintasan. Sementara sinyal satelit memperbaiki jalur dan meningkatkan presisi penargetan.
“Pendekatan ini menghasilkan peningkatan akurasi yang substansial,” katanya.
Sistem navigasi Tiongkok diyakini memiliki margin kesalahan kurang dari satu meter atau 3,3 kaki. Artinya sangat presisi dan sistem ini juga dapat secara otomatis mengukur arah target jika target tersebut bergerak.
“Itu jauh lebih baik daripada yang mungkin dilakukan di bawah sinyal GPS sipil, mengingat AS menghalangi akses ke sinyal militer terenkripsi mereka ke musuh-musuhnya,” kata Spesialis analis Theo Nencini.
Selain itu, sistem ini kemungkinan akan membantu Iran untuk menghindari sistem pengacakan Barat yang digunakan Israel selama perang 12 hari pada tahun lalu. Mereka berhasil memelokkan drone dan rudal Iran yang menggunakan sinyal GPS untuk navigasi pada tahun 2025.
Teknik pengacakan termasuk mengelabui drone yang datang dengan koordinat palsu. Sistem BeiDou dapat menyaring gangguan semacam itu.




