Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan sebanyak 150 event dalam Calendar of Event 2026 sebagai strategi menarik wisatawan, terutama untuk mengisi periode kunjungan rendah atau low season.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muhammad Zandaru, menyebut kalender tersebut telah disusun sejak November 2025. “Total ada 150 event, dan 103 di antaranya digelar di Kota Yogyakarta,” ujarnya, Kamis (16/4).
Pemkot Yogyakarta membagi penguatan event berdasarkan periode. Februari hingga April difokuskan untuk mengisi masa low season, sementara Agustus didorong sebagai bulan festival dan Oktober menjadi puncak dengan penyelenggaraan event selama satu bulan penuh bertepatan dengan hari jadi Kota Yogyakarta.
Sejumlah event yang akan diperkuat antara lain Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, perayaan Imlek di kawasan Ketandan yang direncanakan diperluas, serta ArtJog yang diintegrasikan dalam kalender event kota.
Menurut Zandaru, penguatan dan integrasi event diharapkan dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan meningkatkan belanja, yang berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD), terutama dari sektor pajak hotel dan restoran.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan pihaknya ingin mengubah pola kunjungan wisata ke Kota Yogyakarta, dari datang karena kebetulan menjadi datang karena satu event tertentu.
“Selama ini orang datang ke Jogja kebetulan pas ada acara. Ke depan, kita ingin orang datang ke Jogja karena memang ingin melihat satu event,” ujar Wawan ke awak media, Kamis (16/4).
Ia menyebut konsep tersebut merujuk pada kota seperti Singapura, di mana wisatawan datang karena event yang sudah direncanakan dan memiliki daya tarik kuat. “Di sana orang datang karena ada event tertentu, kita ingin Jogja seperti itu,” katanya.
Pada 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Yogyakarta mencapai sekitar 11 juta orang, termasuk 314 ribu wisatawan mancanegara. Namun, rata-rata lama tinggal wisatawan masih 1,77 hari atau belum mencapai target dua hari, dengan rata-rata belanja sekitar Rp2,28 juta per orang.





