Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti pencapaian luar biasa dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru menginjak usia 1 tahun 3 bulan di Indonesia. Mereka membandingkan program ini dengan program school meal di Jepang, yang sudah berjalan sekitar 100 tahun lebih.
"Kalau Jepang baru 100 tahun berdiri melaksanakan program school meal, di Indonesia alhamdulillah sudah 1 tahun, jadi sudah 1 tahun 3 bulan," ujar Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya, saat memaparkan data dalam acara Talkshow Refleksi Satu Tahun Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta, Kamis (16/4).
Meski baru setahun, Sony membeberkan bahwa program unggulan ini telah menyentuh puluhan juta penerima manfaat dan membuka jutaan lapangan kerja.
"Dari jumlah SPPG tersebut, sekitar 1,8 juta relawan dan pekerja telah terlibat. Semuanya itu adalah pelibatan masyarakat, itulah wujud pemberdayaan masyarakat," jelasnya.
Sony tak sepakat dengan anggapan yang menyebut bahwa kucuran dana besar untuk MBG hanya dinikmati segelintir orang saja. Ia memastikan, dana tersebut berputar dan terserap sampai akar rumput (grassroot).
"Setiap hari mencapai Rp 986 miliar uang dikucurkan oleh pemerintah langsung mengalir ke grassroots, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan. Rp 600 miliar lebih setiap hari diserap habis oleh pedagang beras, pedagang ayam, telur, daging, sayur, dan buah. Jadi mengalir ke elite yang mana? Ini mengalir ke saudara-saudara kita langsung," tegas Sony.




