China Memang "Perkasa", Ekonomi Q1 Tumbuh 5%-Melampaui Ekspektasi

cnbcindonesia.com
17 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi bendera China. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China meningkat pesat pada kuartal pertama (Q1) 2026. Pertumbuhan ekspor yang kuat mengimbangi permintaan domestik yang lesu, meskipun guncangan energi yang dipicu perang Iran membayangi prospek pertumbuhan dan mengancam permintaan global.

Mengutip data Biro Statistik Nasional, Kamis (16/4/2026), produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5% dalam tiga bulan hingga Maret. Angka itu meningkat dari 4,5% pada kuartal sebelumnya dan melampaui perkiraan ekonom untuk pertumbuhan 4,8% dalam jajak pendapat Reuters.

Sebelumnya, Beijing telah menurunkan target pertumbuhan tahun ini menjadi kisaran 4,5% hingga 5%. Target tersebut merupakan target pesimis yang pernah tercatat sejak awal tahun 1990-an.


Pilihan Redaksi
  • Mengapa Netanyahu Tak Membiarkan Timur Tengah Damai?
  • BBM Naik Tajam, Warga Serbu SPBU Jelang Tengah Malam
  • Breaking: Trump Umumkan Buka Selat Hormuz Permanen untuk China & Dunia
  • Breaking: IHSG Kembali Menguat, Dibuka Naik 0,52%
  • Skandal Pasar? AS Selidiki Transaksi Aneh Jelang Pernyataan Iran Trump

Analis sempat meyakini hal tersebut sebagai pengakuan tersirat atas perlambatan permintaan dalam negeri. Belum lagi dampak ketegangan perdagangan yang masih berlanjut dengan AS.

"Kita harus menyadari bahwa lingkungan eksternal menjadi semakin kompleks dan bergejolak," kata biro statistik dalam sebuah pernyataan, memperingatkan ketidakseimbangan yang "akut" antara "pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah".

Secara terpisah, investasi aset tetap perkotaan, termasuk investasi real estat dan infrastruktur, naik 1,7% pada Q1 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun angka itu meleset dari ekspektasi pertumbuhan 1,9% dalam jajak pendapat Reuters, dengan investasi di sektor properti turun 11,2%.

Pada bulan Maret, penjualan ritel China tumbuh 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya, melambat dari peningkatan 2,8% yang didorong oleh liburan pada bulan Februari. Angka ini juga di bawah perkiraan ekonom untuk pertumbuhan 2,3%.

Namun produksi industri meningkat 5,7% bulan lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan lebih kuat dari ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan 5,5%, dan dibandingkan dengan pertumbuhan 6,3% pada bulan Februari.

Sementara itu, tingkat pengangguran perkotaan berdasarkan survei pada bulan Maret adalah 5,4%. Angka ini meningkat dari 5,3% pada bulan Februari.

Perlu diketahui, sebagai importir minyak terbesar di dunia dan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor, China rentan terhadap guncangan harga minyak yang telah memperlambat perdagangan. Hal itu mendorong kenaikan biaya pabrik dan memperburuk prospek untuk sisa tahun ini.

Namun pada Q1 ini, ekspor China tumbuh 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya dalam dolar AS. Menurut Economist Intelligence Unit, laju tercepat sejak awal 2022.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Genjot Penjualan,Mobil Listrik China Tawarkan Teknologi Canggih

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri ESDM Laporkan Hasil Kerja Sama Energi RI–Rusia ke Presiden Prabowo
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Produser Film ‘Sang Pengadil’ Jadi Tersangka TPPU, Diduga Simpan Harta Zarof Ricar
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
10 Ide Lomba Unik untuk Meriahkan Hari Kartini di Kantor, Dijamin Seru dan Meriah!
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Ray Rangkuti Soroti Menguatnya Militer di Sipil hingga Operasi Intelijen di Kasus Andrie Yunus
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Segera Teken Aturan Baru Tax Holiday, Insentif Beralih ke Kredit Pajak
• 16 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.