JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov menegaskan, negaranya siap memberikan dukungan terkait keinginan pemerintah Indonesia membeli minyak dan gas Rusia.
Penegasan ini diucapkan Sergei kembali melihat konteks pertemuan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi Rusia Tsivilev beberapa hari terakhir.
"Kami memahami bahwa dalam situasi global saat ini, Indonesia tertarik sekarang, tertarik untuk membeli minyak dan gas Rusia, dan kami siap (bekerja sama)," kata Sergei saat ditemui di kantor Radio Sonora, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Namun Sergei menyebut, kesiapan memasok sumber daya minyak dan gas ini bukan untuk Indonesia saja.
Baca juga: RI Putuskan Beli Minyak Rusia, Bahlil: Politik Bebas Aktif, Boleh Belanja di Mana Saja
Presiden Rusia, Vladimir Putin disebut telah memberikan penekanan agar perusahaan minyak di negaranya siap memberikan pelayanan bagi negara yang hendak membeli minyak mereka.
Tak terkecuali untuk negara-negara sagabat, termasuk barat seperti Eropa yang hubungannya sedang memanas dengan Rusia.
"Jika mereka serius, jika mereka ingin memiliki kontrak jangka panjang dan membeli minyak usia, bahkan untuk mereka (negara barat) pun kami siap menyediakan. Itu bukan masalah, kami adalah pemasok sumber daya yang sangat bertanggung jawab dan berkelanjutan," ucapnya.
Baca juga: Prabowo Panggil Bahlil yang Jalankan Misi Cari Minyak Rusia
Sergei juga mengaku heran mengapa Indonesia baru serius melakukan kerja sama minyak dengan Rusia.
Padahal menurut Sergei, banyak perusahaan minyak Rusia datang ke Jakarta untuk menawarkan kerja sama sejak dulu.
Namun informasi yang didapat Sergei, perusahaan minyak di Indonesia takut berurusan dengan Rusia.
Baca juga: Usai Kunjungan ke Rusia, PR Besar Ketahanan Energi Menanti Pemerintah
"Sangat jelas bahwa manajemen Pertamina merasa takut. Takut berurusan dengan Rusia karena mereka punya begitu banyak kontak, mungkin beberapa surat berharga di bank-bank Amerika, mereka takut terkena sanksi, baik sanksi sekunder maupun primer," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



