Teladan Prima Agro mengalokasikan belanja modal lebih dari Rp600 miliar pada 2026.
IDXChannel - Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mengalokasikan belanja modal lebih dari Rp600 miliar pada 2026.
Dana tersebut akan difokuskan untuk pembangunan infrastruktur pengolahan hilir, energi terbarukan, hingga strategi ekspansi anorganik termasuk akuisisi.
Head of Corporate Finance & Strategy TLDN, Wasisto Budi Sulistio menjelaskan, sebagian dana tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas pabrik pengolahan inti sawit (Kernel Crushing Plant) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) kedua milik perseroan.
"Perkiraan anggaran capex atau investasinya sebesar Rp50-60 miliar untuk pabrik pengolahan inti sawit dan sekitar Rp40-50 miliar untuk biogas power plant," ujar Wasisto dalam konferensi pers, Kamis (16/4/2026).
Fasilitas baru ini ditargetkan rampung pada akhir 2026 dengan kapasitas produksi 100 ton inti sawit per hari dan daya listrik sebesar 1,7 megawatt, serupa dengan kapasitas fasilitas yang sudah beroperasi saat ini.
Selain pengembangan organik, TLDN menegaskan bahwa akuisisi perusahaan sawit tetap menjadi pilar utama dalam rencana pertumbuhan jangka panjang.
Perseroan memberikan gambaran keberhasilan melalui akuisisi PT Cipta Davia Mandiri pada 2025 senilai Rp136,32 miliar. Hingga saat ini, TLDN telah menyerap 77 persen dari total dana IPO yang mencapai Rp285,60 miliar.
Sisa dana IPO sebesar Rp65,28 miliar akan dialokasikan untuk penyetoran modal kepada anak usaha hasil akuisisi tersebut.
"Kami sangat terbuka dengan rencana akuisisi dan menjadi salah satu rencana yang ada di rencana jangka panjang perusahaan untuk terus meningkatkan kemampuan akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit," ujar Wasisto.
Optimisme perseroan didorong oleh performa keuangan 2025 yang solid, di mana pendapatan melonjak 28,42 persen secara tahunan menjadi Rp5,42 triliun. Penjualan Minyak Kelapa Sawit (CPO) menjadi kontributor terbesar senilai Rp4,7 triliun, didukung kenaikan harga jual rata-rata CPO sebesar 14,5 persen dan volume penjualan yang tumbuh 8 persen.
Melihat tren harga CPO yang masih menguat dan permintaan pasar yang tumbuh, manajemen mematok target pertumbuhan dua digit pada 2026.
"Kami optimistis untuk menargetkan target produksi tahun ini InsyaAllah bisa lebih baik 5-10 persen dibandingkan tahun 2025. Begitu juga dengan target pendapatan dan laba tahun 2026, yang kami optimis untuk bisa mencapai 10 persen lebih baik dibandingkan tahun 2025," katanya.
(DESI ANGRIANI)





