Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/). Tinjauan ini dilakukan untuk memastikan program pendidikan gratis berasrama bagi masyarakat kurang mampu berjalan dengan baik.
Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi, Farida Dewi Maharani, menegaskan Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan anak, tetapi juga dirancang sebagai program bantuan yang terintegrasi hingga ke tingkat keluarga.
“Jadi tidak hanya membentuk anak yang masuk ke sekolah rakyat tapi ini memperbaiki secara holistik termasuk keluarga-keluarganya. Program bantuan itu tidak berdiri sendiri-sendiri tapi terintegrasi. Dan ini adalah suatu langkah yang patut kita apresiasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, skema terintegrasi ini dinilai penting untuk mempercepat upaya keluar dari kemiskinan.
“Tapi dengan sistem yang terintegrasi kita tidak butuh waktu 10 tahun atau 15 tahun karena yang akhirnya diberikan umpan itu tidak hanya anak tapi juga keluarga,” kata Farida.
Farida menjelaskan, Sekolah Rakyat juga memberikan akses penuh tanpa biaya bagi siswa, mulai dari pendidikan hingga fasilitas penunjang.
“Sudah cukup luar biasa untuk sebuah sekolah yang memang tidak ada tidak sama sekali ditarik anggaran dari si orang tua atau muridnya. Dengan tidak ada biaya apa pun dari murid dan orang tua fasilitas yang diberikan sarana prasarana dan juga berbagai macam kegiatan itu adalah cukup luar biasa sekali,” jelasnya.
Ia menambahkan, program ini kini telah berjalan aktif dan berada dalam fase operasional.
“Jika awalnya masih tahap persiapan, sekarang sudah menerima siswa dan pembelajaran berjalan aktif. Kami ingin publik mendapat gambaran utuh,” ungkapnya.
Program Sekolah Rakyat ini menyasar anak-anak dari keluarga yang masuk kategori desil 1 dan desil 2, yaitu kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Proses Seleksi Masuk Sekolah RakyatDi kesempatan yang sama, Kepala Dinsos PPPA Kota Probolinggo Madihah menjelaskan, proses seleksi siswa dilakukan berbasis data dari Kementerian Sosial yang diverifikasi langsung ke lapangan.
“Memang kalau daftarnya itu given dari Kemensos, hanya saja memang kita dikasih daftar list yang panjang dan itu door to door kita benar-benar melakukan verifikasi dan validasi di lapangan untuk memastikan bahwa anak-anak yang masuk ke dalam sini itu memang berasal dari keluarga yang berada di Desil 1 dan 2 atau terkategori yang termiskin di dalam kategori Desil 1 sampai 5,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan program ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga keluarga secara menyeluruh.
“Bahwa seperti yang disampaikan Ibu Direktur adanya SR ini, ini tidak berbicara hanya sekadar siswanya juga tapi penyelesaian kita berharap pengentasan kemiskinannya ini memang holistik gitu loh, mulai dari dari hulu ke hilir itu bisa kita lakukan intervensi,” kata Madihah.
Madihah mengatakan, dampak program ini juga terlihat dari perubahan pola pikir dan kepercayaan diri siswa.
"Dulu ada yang bercita-cita sangat sederhana karena keterbatasan akses. Sekarang, setelah mendapatkan pendidikan dan pendampingan, kepercayaan diri mereka tumbuh dan cara pandang terhadap masa depan berubah,” tuturnya.
Saat ini, jumlah siswa aktif mencapai 91 orang dari total awal 100 siswa, terdiri dari jenjang SMP dan SMA. Sekolah ini belum memiliki jenjang SD meski secara konsep dirancang terintegrasi.
Adapun implementasi program tersebut Madihah menjelaskan, Pemkot Probolinggo memanfaatkan rusunawa sebagai asrama siswa, sementara kegiatan belajar mengajar menggunakan gedung sekolah yang sudah ada.
Bangun Kemandirian SiswaSementara itu, Kepala Sekolah SRT 7 Susilowati, menjelaskan sistem pendidikan di sekolah ini berlangsung dengan pola berasrama dan jadwal yang terstruktur sejak dini hari.
“Untuk bangunnya adalah 03:45 WIB anak-anak sudah dibangunkan. Jam 04:15 salat subuh. Sampai setelah itu ngaji bareng anak-anak. Ngaji waktu bada subuh itu kita wajibkan untuk membaca Surat Al-Waqi'ah setiap hari," ujarnya
"Nah setelahnya anak-anak juga olahraga. Setelah olahraga persiapan untuk mandi, nanti turun lagi untuk salat berjemaah. Untuk salat duha kita wajibkan untuk berjemaah. Setelah salat duha persiapan makan, setelah makan nanti apel pagi terus ke sekolah. Seperti itu,” imbuhnya.
Susilowati menambahkan, sistem pendidikan di sekolah ini tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan religiusitas.
“Anak-anak yang sebelumnya harus disuruh, sekarang sudah terbiasa salat sendiri, mencuci pakaian sendiri, dan lebih mandiri,” tuturnya.
Susilowati menjelaskan saat ini secara keseluruhan siswa beragama Islam. Ke depannya jika terdapat keberagaman, kurikulum akan disesuaikan sesuai kebutuhan siswa seperti sekolah reguler pada umumnya.





