Bisnis.com, JAKARTA — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menarik pasukan dari Lebanon dan akan tetap mempertahankan “zona keamanan yang diperluas” menjelang pelaksanaan gencatan senjata.
Melansir Viory, Jumat (17/4/2026), Netanyahu menyatakan kehadiran militer Israel akan mencakup wilayah strategis dari Laut Mediterania hingga perbatasan Suriah.
“Kami tetap berada di Lebanon. Ini adalah sabuk keamanan yang membentang dari laut, berlanjut ke Gunung Dov dan jalur menuju Gunung Hermon, hingga ke perbatasan Suriah,” ujarnya.
Ia menambahkan, zona tersebut berbeda dengan kehadiran terbatas Israel sebelum operasi Lion’s Roar, dengan cakupan yang kini lebih luas dan strategis.
Pernyataan ini disampaikan setelah Netanyahu menolak dua syarat gencatan senjata yang diajukan Hizbullah, yakni penarikan penuh pasukan Israel ke perbatasan internasional serta skema “ketenangan dibalas ketenangan”.
“Saya tidak menyetujui keduanya, dan memang kedua syarat tersebut tidak dijalankan,” tegasnya.
Baca Juga
- Trump Sebut Israel dan Lebanon Sepakat Gencatan Senjata 10 Hari
- Iran Klaim Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Mencapai US$$270 Miliar
- Israel Bombardir Lebanon saat Gencatan Senjata AS-Iran, 254 Orang Tewas
Netanyahu menilai posisi Israel saat ini didukung oleh perubahan signifikan dalam keseimbangan kekuatan di lapangan. Ia menyebut eliminasi pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah serta penghancuran “persediaan 150.000 roket” sebagai faktor utama.
“Situasi di lapangan telah berubah secara fundamental,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan Lebanon telah menginisiasi pembicaraan damai langsung, yang tidak terjadi selama lebih dari 40 tahun.
Netanyahu juga menyebut Presiden Donald Trump berencana mengundang dirinya dan Presiden Lebanon untuk mendorong perjanjian damai bersejarah.
Pernyataan tersebut muncul setelah gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon dilaporkan mulai berlaku pada tengah malam Jumat waktu setempat (04.00 WIB). Kesepakatan ini tercapai beberapa hari setelah perundingan langsung yang jarang terjadi antara pejabat kedua negara di Washington, yang disebut sebagai diplomasi “terbuka, langsung, dan tingkat tinggi”.
Sebelumnya, gencatan senjata antara Iran dan aliansi AS–Israel mulai berlaku pekan lalu, meskipun masih terdapat perbedaan pandangan terkait cakupan kesepakatan tersebut terhadap Lebanon. Perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad pada Minggu berakhir tanpa kesepakatan.
Bentrok di Lebanon kembali pecah pada 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel, yang disebut sebagai “balasan” atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.





