Korea Selatan (Korsel) telah mengamankan ratusan juta barel minyak mentah serta pasokan nafta dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi yang akan dikirim melalui jalur laut menghindari Selat Hormuz yang diblokade.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/4), sekitar 273 juta barel minyak mentah dan hampir 2,1 juta ton nafta dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi. Kepala Staf Kepresidenan Korsel, Kang Hoon-sik, mengatakan kedua komoditas itu akan dikirim pada akhir 2026 melalui jalur lain.
Pasokan yang telah diamankan termasuk 18 juta barel minyak mentah dari Kazakhstan dan 5 juta barel minyak mentah, serta 1,6 juta ton nafta dari Oman. Sementara Arab Saudi akan menyediakan 50 juta barel minyak yang akan dikirim pada April-Mei, serta tambahan 200 juta barel dari Juni hingga akhir tahun. Arab Saudi juga berkomitmen untuk menyediakan 500 ribu ton nafta.
Pengumuman ini dilakukan di tengah Korsel berupaya keras mendiversifikasi sumber energi dan mengamankan impor bahan bakar petrokimia utama yang stabil imbas perang di Iran. Ini juga menyoroti betapa Korsel sangat bergantung pada pasokan lewat Selat Hormuz.
Korsel mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya, termasuk sekitar 70 persen lewat Selat Hormuz. Perang di Iran yang berkepanjangan telah menghantam negara pengimpor energi ini, membebani rumah tangga dan bisnis.
Pada Rabu (15/4), haarga impor Korsel mencatatkan lonjakan terbesar dalam hampir 3 dekade, menggarisbawahi skala tekanan biaya yang merambat melalui perekonomian karena perang memicu lonjakan harga minyak dan membebani mata uang mereka, yaitu won.
Sejak perang yang dimulai oleh AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, Presiden Korsel Lee Jae Myung telah berulang kali mendesak warga untuk menahan penggunaan bahan bakar, menandakan meningkatnya rasa urgensi arena pemerintah bergerak untuk menahan dampak ekonomi akibat lonjakan harga energi dan gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Lee telah menggambarkan krisis pasokan sebagai salah satu ancaman keamanan energi paling parah bagi Korsel dalam beberapa dekade.




