VIVA – Dampak blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran semakin masif di perairan sekitar Selat Hormuz. Dalam waktu 72 jam sejak operasi diberlakukan, belasan kapal dagang memilih berbalik arah ketimbang mengambil risiko berhadapan dengan armada Angkatan Laut AS.
United States Central Command (CENTCOM) pada Kamis, 16 April 2026, mengungkapkan bahwa sedikitnya 14 kapal telah mengubah haluan sebagai bentuk kepatuhan terhadap pemblokiran yang kini diterapkan di sekitar pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Pasukan AS bersikap fokus, waspada, dan sangat termotivasi saat melaksanakan blokade terhadap kapal-kapal yang mencoba masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Setelah 72 jam dilakukan blokade, 14 kapal telah berbalik arah untuk patuh terhadap pemblokiran atas arahan pasukan Amerika," tulis CENTCOM melalui platform X.
Langkah ini menunjukkan bahwa strategi Washington bukan sekadar simbolis, melainkan langsung memengaruhi lalu lintas pelayaran yang menjadi urat nadi ekspor minyak dan perdagangan Iran.
Sebelumnya, Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menjelaskan bahwa Angkatan Laut AS tidak menutup total Selat Hormuz, melainkan fokus pada penegakan blokade di sepanjang garis pantai dan pelabuhan Iran.
Menurut Caine, operasi ini mencakup perairan teritorial Iran hingga perairan internasional lain dalam wilayah tanggung jawab militer AS, bahkan melibatkan armada di bawah United States Indo-Pacific Command. Kapal-kapal ini ditugaskan memburu kapal berbendera Iran maupun kapal yang diduga memberikan dukungan material kepada Teheran, termasuk armada gelap pengangkut minyak Iran.
Blokade ini muncul di tengah eskalasi konflik yang memuncak sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu balasan Iran ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Harapan meredanya ketegangan sempat muncul ketika Iran dan AS menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu, menyusul pengumuman gencatan senjata dua pekan oleh Presiden Donald Trump.
Namun sehari setelahnya, Wakil Presiden J. D. Vance menyatakan negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Tak lama berselang, Trump mengumumkan blokade total terhadap semua kapal yang hendak masuk maupun keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.





