Bisnis.com, MAKASSAR — Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penguatan basis investor ritel di Sulawesi Selatan (Sulsel) melalui penetrasi ke segmen mahasiswa dan pekerja muda.
Langkah tersebut diambil guna mengejar ketertinggalan inklusi pasar modal di luar Pulau Jawa sekaligus memperluas ekosistem investor di Indonesia.
Dewan Presidium APRDI Marsangap P. Tamba mengakui bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk investasi di Sulsel dan di beberapa daerah lainnya masih tergolong rendah.
Menurutnya, pusat distribusi inklusi investasi hingga saat ini masih terpusat di Pulau Jawa, sehingga diperlukan pemerataan edukasi yang lebih masif.
"Dengan bantuan teknologi dan akses yang ada, sebenarnya semua orang berpotensi menjadi investor. Kebutuhan investasi, terutama di pasar modal, idealnya dimulai dengan reksa dana sebagai instrumen entry level," ujar Marsangap saat pelaksanaan sosialisasi dan edukasi reksa dana di Makassar, Kamis (16/4/2026).
Dia menambahkan, reksa dana merupakan sarana edukasi yang efektif bagi pemula untuk memahami dinamika pasar modal dan manajemen risiko bersama manajer investasi. Hal ini krusial untuk mempertahankan nilai kekayaan masyarakat agar tidak tergerus inflasi dalam jangka panjang.
Baca Juga
- Tips Kelola THR untuk Investasi, dari Reksa Dana hingga SBN
Untuk mengakselerasi target tersebut, APRDI dan OJK akan meluncurkan program Road to Pekan Reksa Dana 2026 pada 27 April mendatang. Program edukasi berkelanjutan ini akan bergulir sepanjang kuartal II hingga kuartal IV/2026 dengan menggandeng Bursa Efek Indonesia (BEI).
Beberapa fokus utama dalam kampanye ini meliputi popularisasi reksa dana pasar uang hingga reksa dana syariah, edukasi investasi umum bagi masyarakat luas, serta pemanfaatan platform digital untuk mempermudah kepemilikan Single Investor Identification (SID).
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin menilai potensi pertumbuhan investor di wilayah ini masih sangat terbuka lebar. Berdasarkan data OJK per Februari 2026, jumlah investor pasar modal di Sulsel baru tercatat sebanyak 549.910 SID.
Angka tersebut dinilai masih minim jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Sulawesi Selatan yang mencapai sekitar 9,4 juta jiwa.
Oleh sebab itu Muchlasin pun menekankan bahwa reksa dana adalah instrumen yang paling relevan untuk memacu literasi di daerah ini.
"Reksa dana sangat cocok bagi pemula karena nilai investasinya terjangkau. Sekarang bahkan ada kategori reksa dana mikro yang bisa dimulai dari Rp10.000 saja," jelas Muchlasin.
Selain faktor harga, kemudahan akses melalui aplikasi digital dan fleksibilitas produk menjadi daya tarik utama. Investor dapat memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko (risk appetite), mulai dari reksa dana pendapatan tetap yang cenderung stabil hingga produk yang lebih agresif.
Kendati demikian, OJK tetap mengingatkan masyarakat mengenai prinsip high risk high return. Masyarakat diimbau untuk tetap mempelajari risiko setiap produk sebelum memutuskan untuk menempatkan dana mereka di pasar modal.





