Hasil Riset Stunting Remaja Ngawi, Tablet Tambah Darah Kurang Disukai

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Ngawi: Rabu, 15 April 2026, belasan remaja berkumpul di salah satu kantor kecamatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Mereka merupakan perwakilan duta Generasi Berencana dari 26 desa model Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI).

Riset dilakukan kepada 15 remaja (10 perempuan dan 5 laki-laki). Riset dilakukan secara kualitatif untuk menemukan masalah dan potensi di desa terkait penanganan stunting.

Baca Juga :

Arisan Telur di Ngawi, Inisiatif Kreatif Penanganan Stunting Di aula kecamatan itu, mereka membawa lembaran kertas dan membagikannya kepada para hadirin di antaranya para pemangku kebijakan kecamatan seperti Camat, Kades, dan Perwakilan Puskesmas Kesehatan Masyarakat. Diwakili 2 orang, mereka memaparkan hasil riset mereka terkait penanganan stunting atau gizi buruk.

Dengan lugas mereka menyampaikan temuan-temuan untuk perbaikan penanganan stunting di kecamatan tersebut. Salah satu temuan mereka yaitu konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi perempuan yang masih rendah.


Penyebab kurang rutinnya konsumsi TTD tersebut karena remaja putri mengeluhkan soal rasa dan bau. Di antara mereka bahkan mengeluhkan efek mual setelah mengonsumsi TTD. Tidak hanya meneliti, tapi juga edukasi Selain meneliti, para remaja tersebut juga melakukan edukasi kepada teman-teman mereka terutama kepada remaja perempuan. ?Milla, Duta Genre Desa Model Program PASTI Kabupaten Ngawi mengatakan, dirinya biasa menyarankan teman-temannya agar mengonsumsi TTD dengan buah-buahan yang mengandung vitamin C. 

Cara tersebut tidak hanya dapat menghilangkan trauma rasa dan bau. Kombinasi konsumsi tersebut dapat membantu penyerapan zat besi yang penting bagi remaja putri.

"Namun, tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan dengan teh atau kopi karena dapat menghambat penyerapan zat besi," ucap Milla, kepada Metrotvnews.com, Rabu, 17 April 2026.

Sholaqal, Ketua Genre Kabupaten Ngawi mengatakan, masih banyak remaja putri yang belum memahami urgensi konsumsi tablet tambah darah. Jika dibiarkan kondisi tersebut akan berdampak bagi kesehatan mereka di masa depan.

"Oleh karena itu, ke depan diharapkan tidak hanya sebatas pembagian, tetapi juga ada pengawasan langsung agar tablet benar-benar diminum," terangnya.

Pemaparan hasil riset penanganan stunting bagi remaja di Kabupaten Ngawi. Foto Metrotvnews.com/Marup
Konfirmasi hasil riset Supriyono, perwakilan salah satu Puskesmas Kabupaten Ngawi mengonfirmasi hal tersebut. Pihaknnya juga melakukan riset yang menunjukkan bahwa dari 1 kelas sekolah sekitar 30 persen remaja putri tidak rutin mengonsumsi TTD.

Ia memastikan pihaknya akan terus menggalakan edukasi dan pengawasan terkait konsumsi TTD bagi remaja putri. Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan kampanye terkait pentingnya konsumsi TTD.

"Padahal sudah dikampanyekan bahwa tablet tambah darah dapat membantu perempuan menjadi lebih sehat, bahkan terlihat lebih segar atau “glowing”. TTD juga mengandung banyak mikromineral," ucapnya.

Selain kampanye, pihaknya juga rutin menggelar Gerakan Minum TTD bersama. Kegiatan tersebut digelar tiap hari Sabtu, ketika Puskesmas seharusnya tidak beroperasi.

"Untuk asupan tambahan, konsumsi buah dan sayur sangat penting untuk memenuhi kebutuhan mineral. Selain itu, protein hewani seperti ikan, ayam, dan telur sangat baik untuk mencegah anemia," tambahnya.

Supriyono menerangkan, pencegahan anemia pada remaja putri penting untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat di masa depan. Jika remaja putri tidak anemia, maka saat menikah dan hamil kondisinya akan lebih baik, sehingga risiko stunting pada anak juga dapat ditekan.

"Sebagian remaja merasa dirinya sehat sehingga tidak merasa perlu mengonsumsi tablet tambah darah. Padahal, anemia ringan sering tidak menimbulkan keluhan, tetapi berdampak jangka panjang," tuturnya. Program PASTI jawal riset Hotmianida Panjaitan, Program Manager PASTI, mengatakan pihaknya melakukan pelatihan bagi pelaksanaan riset tersebut. Prosesnya dimulai dengan Pertemuan Koordinasi Awal Duta Genre untuk persiapan kampanye edukasi remaja bagi 52 remaja duta Genre desa di 26 desa wilayah dampingan.

Dalam kampanye edukasi remaja, terdapat 139 remaja berusia 15-19 tahun oleh Duta Genre desa terlatih di 11 kelurahan.

"Kami mendampingi termasuk memberikan arahan terkait pentingnya konsumsi TTD karena remaja juga berperan penting dalam penanganan stunting.

Sebagai informasi, Program PASTI adalah program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk dan diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia serta didukung Yayasan Cipta untuk percepatan pencegahan dan penurunan stunting dan perbaikan status gizi di Indonesia hingga Januari 2027.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ombudsman Kalsel Serahkan Laporan Pelayanan Publik, Sektor Sosial Catat Nilai Tertinggi
• 31 menit lalutvrinews.com
thumb
Inara Rusli Akhirnya Penuhi Panggilan Polisi atas Kasus Dugaan Perzinaan
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Gabungan di Jaksel Berhasil Angkut 3 Ton Ikan Sapu-Sapu
• 4 jam laludisway.id
thumb
Kemlu RI Ungkap Nasib WNI di Iran-Lebanon, Ini Updatenya
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Usai Rapat dengan BP BUMN, Ara Tegaskan Lahan Tanah Abang Aset Negara
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.