JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Namun, hingga kini pemanfaatan ikan tersebut masih terbatas.
1. Populasi Ikan Sapu-Sapu
Direktur Jenderal Perikananan Budidaya KKP, Haeru Rahayu mengatakan, pengendalian dengan cara konvensional seperti penangkapan dan pemusnahan masih menjadi metode paling efektif hingga saat ini.
"Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat," ucap Haeru kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, hingga saat ini belum ada metode biologis yang efektif untuk mengendalikan ikan sapu-sapu. Upaya menghadirkan predator alami justru dikhawatirkan memunculkan persoalan baru dalam keseimbangan ekosistem.
"Banyak cara sebetulnya, secara biologis kita belum ada predator yang langsung memakan. Kalaupun ada nanti akan menjadi persoalan selanjutnya," ucap Haeru.
Selain itu, pendekatan kimia juga dinilai berisiko terhadap lingkungan sehingga belum menjadi pilihan.
"Secara kimia, ini juga akan punya persoalan dengan lingkungan, maka yang paling efektif hingga detik ini adalah dengan metode konvensional seperti ini," katanya.
2. Pemanfaatan Masih Terbatas
Di sisi lain, Haeru tak menampik ikan sapu-sapu memiliki potensi untuk dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk organik maupun bahan baku tepung ikan. Namun, pemanfaatan tersebut belum dapat dilakukan secara luas.
Ia menjelaskan, terdapat kekhawatiran terkait kandungan residu pada ikan sapu-sapu, terutama yang hidup di perairan tercemar seperti saluran dan kanal di perkotaan. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan jika masuk ke rantai makanan manusia.
"Kalau jadikan tepung ikan kemudian dimakan oleh ikan, ikannya dimakan oleh manusia, maka punya potensi untuk masuk ke manusia," ujarnya.




