Sungai di Jakarta Diserbu Sapu-sapu, Operasi Tangkap Dilakukan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Serbuan ikan sapu-sapu di sungai dan kali Jakarta dilawan dengan operasi tangkap pada Jumat (17/4/2026). Warga, pasukan oranye, personel Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahkan aparat TNI berjibaku menangkapnya sebanyak mungkin.

Operasi tangkap ini dilakukan di 10 lokasi di Jakarta pada pukul 07.3-10.00 WIB. Gubernur Jakarta Pramono Anung hadir di lokasi Kali Danau Kodamar, sekitar RW 006 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Lokasi lain tersebar di Kali Semongol dan Kali Anak TSI (Jakarta Barat), Pintu Air Outlet Setu Babakan dan Kawasan Alam Bambu Perindu (Jakarta Selatan), serta Kanal Banjir Barat dan Pintu Air Manggarai (Jakarta Pusat). Selain itu, ada juga di Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung dan Kali Buaran (Jakarta Timur).

Akan tetapi, bukan perkara mudah menangkap sapu-sapu. Ikan itu bersembunyi di endapan lumpur setebal puluhan sentimeter.

Selain jaring, dibutuhkan tangan cekatan untuk menangkap ikan yang bersarang di lubang dinding sungai. Hasilnya, dari kali berwarna kehitaman itu, ratusan kilogram sapu-sapu berhasil ditangkap.

Ketua RW 006 Kelapa Gading Barat Ikhsan mengatakan, untuk meningkatkan partisipasi warga, ia berinisiatif membeli sapu-sapu Rp 5.000 per kilogram. Tidak untuk dikonsumsi, ikan itu lalu dikubur di lahan kosong RW 006.

”Saya spontan saja sebagai dukungan dari pengurus RW. Kalau (beli sapu-sapu) buat seluruh Jakarta, amsyong saya,” kata Ikhsan.

Baca JugaMengapa Jakarta Harus ”Perang” Melawan Ikan Sapu-sapu?
Baca JugaPemburu Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung
Satwa invasif

Fenomena ini bukan tanpa alasan untuk diperangi. Platform IPB University, Digitani, menjelaskan, sapu-sapu mudah ditemui di perairan Indonesia. Ada 22 spesies yang telah diidentifikasi. Namun, ada dua yang paling dikenal, yaitu spesies Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis.

Ikan yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan buruk ini memiliki mulut pengisap yang terletak di bagian bawah kepala. Fungsinya untuk menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati.

Sapu-sapu sangat invasif. Memakan telur ikan lokal dan merusak lingkungan karena menggerogoti dinding kali (untuk tempat tinggal).

Berdasarkan bentuk usus yang panjang dan tersusun melingkar seperti spiral, ikan sapu-sapu digolongkan sebagai ikan herbivora. Namun, karena spektrum makanannya yang luas, ikan ini lebih tepat dikategorikan sebagai spesies eurifagik atau pemakan segala.

”Sapu-sapu sangat invasif. Memakan telur ikan lokal dan merusak lingkungan karena menggerogoti dinding kali (untuk tempat tinggal),” ujar Pramono.

Ke depan, Pramono berencana membentuk pasukan khusus penangkap sapu-sapu. Bila dibiarkan, ia yakin, kondisi ekosistem air di Jakarta akan semakin rawan. Apalagi, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta melaporkan, sapu-sapu telah mendominasi 60 persen perairan lokal.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Haeru Rahayu menyampaikan hal yang sama. Populasi sapu-sapu mesti dikendalikan. Alasannya, belum ada predator alami di perairan lokal. Akibatnya, penangkapan masih jadi metode paling efektif sampai sekarang.

”Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang menyiapkan revisi aturan hukumnya supaya bisa lebih aplikatif untuk pengendalian populasi sapu-sapu,” ucap Haeru.

Aturan hukum yang dimaksud Haeru adalah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/PERMEN-KP/2020 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang Membahayakan dan/atau Merugikan ke Dalam dan dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Baca JugaPolemik Ikan Sapu-sapu Ciliwung, Aman Dikonsumsi atau Berbahaya?
Baca JugaJakarta Buru Ikan Sapu-sapu di Aliran Sungai
Berkelanjutan

Setelah ditangkap, sapu-sapu itu lantas dikubur di lahan kosong atau Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan Ciganjur. Sejauh ini, prioritasnya hanya untuk dijadikan pupuk tanaman. Ikan ini belum memenuhi standar aman bahan makanan manusia atau hewan.

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta menyampaikan sapu-sapu secara biologis sebenarnya bisa dikonsumsi. Syaratnya, ikan berasal dari budidaya terkontrol, bukan sungai atau waduk tercemar. Pada perairan tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi.

Sampel ikan dan air dari Kali Ciliwung, misalnya, menunjukkan terdapat kandungan Salmonella, E-coli, dan residu logam berat, melebihi ambang batas.

Mengingat dampaknya yang berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia, pengendalian sapu-sapu mesti segera dilakukan. Keinginan warga Kelapa Gading Barat agar operasi tangkap ini dilakukan berkelanjutan jelas mesti didengarkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DJP Siap Terapkan Pajak Marketplace, Tunggu Arahan Purbaya
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bank Jago Hadirkan Fitur Pantau Portofolio, Permudah Nasabah Lacak Investasi
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bima Arya Ingatkan Universitas Berperan Strategis Optimalkan Bonus Demografi
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Kabur Usai Diperiksa 6 Bulan Lalu, Alung Kurir Sabu 58 Kg Ditangkap
• 21 jam laludetik.com
thumb
Sempat Jadi Pemulung, Fikri Temukan Kehidupan Baru di Sekolah Rakyat
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.