Perang Menghantam Iran : Kerugian Resmi Capai Rp 4.625 Triliun

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran memberikan pukulan berat bagi Iran, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa dunia akan segera menyambut “dua hari yang menarik”. Sementara itu, pihak resmi Iran baru-baru ini mengonfirmasi bahwa kerugian telah mencapai hingga US$270 miliar atau Rp 4.625 triliun. 

Pemerintah Iran juga menerapkan pemadaman internet secara nasional, yang berdampak pada jutaan tenaga kerja. Ditambah lagi, terganggunya pelayaran di Selat Hormuz menyebabkan ekspor minyak terhenti. Dengan dampak yang terus berlanjut, ekonomi Iran diperkirakan akan semakin memburuk.

Setelah pecahnya perang AS–Iran, ekonomi Iran mengalami kerusakan besar dalam waktu singkat. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, pada hari Selasa mengkonfirmasi bahwa kerugian ekonomi telah mencapai US$270 miliar.

Lembaga pemikir AS, Foundation for Defense of Democracies, memperkirakan kerugian berada di kisaran US$150 miliar hingga US$300 miliar. Dengan populasi Iran sekitar 92 juta jiwa, kerugian per kapita diperkirakan antara US$1.600 hingga US$3.250.

Perang telah menghantam industri-industri utama Iran. Sektor petrokimia mengalami kerugian paling besar, dengan sekitar 85% ekspor terdampak, menyebabkan kerugian sekitar US$30 miliar hingga US$50 miliar. Infrastruktur energi seperti kilang minyak, fasilitas penyimpanan, dan gas alam mengalami kerusakan senilai sekitar US$15 miliar hingga US$25 miliar. Sekitar 70% kapasitas produksi baja nasional juga terdampak, dengan kerugian sekitar US$5 miliar hingga US$10 miliar.

Seiring dengan pemblokiran Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, ekspor minyak Iran sekitar 1,5 juta barel per hari hampir sepenuhnya terhenti.

Mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Meysam Maleki, menganalisis bahwa blokade tersebut menyebabkan kerugian sekitar US$435 juta per hari. 

Mengingat lebih dari 90% perdagangan Iran bergantung pada jalur transportasi melalui Teluk Persia, dan minyak serta gas menyumbang 80% pendapatan ekspor, dampak ekonomi dari blokade ini diperkirakan akan terus membesar.

Selain itu, sejak 28 Februari, otoritas Iran memberlakukan pemadaman internet nasional yang menghantam sektor jasa dan sistem keuangan, memengaruhi jutaan pekerja. Kerugian harian diperkirakan sekitar US$37 juta hingga US$42 juta. Dalam lima minggu, total kerugian mencapai sekitar US$1,5 miliar hingga US$2,5 miliar, serta menyebabkan penjualan online anjlok sekitar 80% dan pasar saham merosot tajam.

Bank Sentral Iran memperkirakan bahwa proses rekonstruksi pasca perang dapat memakan waktu 10 hingga 12 tahun.

Laporan disusun oleh Zheng Shengxun, NTD Television.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jonjo Shelvey Pensiun, Resmi Nahkodai Arabian Falcons
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Kelakuan AS-Israel Disorot Rusia, Awas Ancaman Operasi Darat ke Iran
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rekrutmen Besar Kopdes Merah Putih 2026, Peluang Kerja 35 Ribu
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Indonesia dan Austria Perluas Kolaborasi Pendidikan Tinggi dan Riset
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Hari Keempat MTQ XXXIV Sulsel Jadi Penentu, Semua Cabang Ditarget Rampung Hari Ini
• 23 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.