Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar menekankan pentingnya perubahan fundamental dalam penyelenggaraan festival di Indonesia dari sekadar menyelenggarakan acara menjadi pembangunan aset Intellectual Property (IP) agar mampu bersaing di kancah global.
“Tugas kita bukan lagi hanya menjalankan sebuah acara, tugas kita adalah membangun merek festival dengan nilai, dengan format yang dapat dilisensikan, dan yang dapat melahirkan Intellectual Property turunannya sendiri," katanya dalam keterangan yang dikonfirmasi ANTARA, di Jakarta, Jumat.
Ia menyampaikan bahwa festival merupakan salah satu pilar strategis dalam ekonomi kreatif. Festival juga bukan hanya sekadar hiburan, namun telah bertransformasi sebagai infrastrukur budaya dan ekonomi.
Baca juga: Menekraf sebut IP valuator berperan penting perkuat ekosistem ekraf
Baca juga: Menekraf jajaki kolaborasi di bidang industri kreatif dengan Irlandia
Ia mendorong agar festival di Indonesia bisa dijadikan IP yang berkelanjutan, penguatan model bisnis yang mandiri, serta kolaborasi lintas negara, dengan menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat kreatif dunia yang terintegrasi.
"Festival adalah platform yang membentuk identitas kota, mendorong pariwisata, menciptakan lapangan kerja, dan berfungsi sebagai media diplomasi budaya kita yang paling efektif," ujar Wamen Ekraf.
Dalam kunjungannya di pembukaan Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2026 di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Rabu (15/4) Wamen Ekraf mengapresiasi kolaborasi ekosistem ekonomi kreatif di Yogyakarta, dengan harapan menjadi contoh bagi daerah lain.
Mengusung tema simposium "Building Festival’s Resilience in Southeast Asia", JFFE 2026 merupakan ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendorong profesionalisme manajemen festival agar menjadi aset ekonomi yang kompetitif.
Kerja sama lintas sektor mampu membangun nilai ekonomi positif yang berdampak pada tumbuhnya industri dalam jangka panjang.
“Dukungan kementerian sangat krusial dalam memastikan festival di Yogyakarta tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi yang profesional dan kolaboratif," jelas Chairman Jogja Festivals, Heri Pemad.
Simposium ini menghadirkan perspektif global dari Glyn Roberts Chief Executive Festival City Adelaide dan Natalie Hennedige Festival Director Singapore International Festival of Arts yang menyoroti pentingnya kemitraan publik-swasta serta model bisnis berkelanjutan, sejalan dengan apresiasi Wamen Ekraf terhadap inisiatif Jogja Festivals dalam mempertemukan berbagai pihak secara strategis.
Usai menjadi pembicara, Wamen Ekraf langsung meninjau Expo JFFE dan kantor Komite Ekonomi Kreatif untuk melihat langsung potensi produk lokal serta menekankan penguatan kualitas menuju pasar global.
Baca juga: Arab Saudi bidik kolaborasi budaya lebih erat dengan Indonesia
Baca juga: Wapres Gibran ajak industri kreatif perkuat kolaborasi strategis
Baca juga: Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya memperkuat sektor ekonomi kreatif
“Tugas kita bukan lagi hanya menjalankan sebuah acara, tugas kita adalah membangun merek festival dengan nilai, dengan format yang dapat dilisensikan, dan yang dapat melahirkan Intellectual Property turunannya sendiri," katanya dalam keterangan yang dikonfirmasi ANTARA, di Jakarta, Jumat.
Ia menyampaikan bahwa festival merupakan salah satu pilar strategis dalam ekonomi kreatif. Festival juga bukan hanya sekadar hiburan, namun telah bertransformasi sebagai infrastrukur budaya dan ekonomi.
Baca juga: Menekraf sebut IP valuator berperan penting perkuat ekosistem ekraf
Baca juga: Menekraf jajaki kolaborasi di bidang industri kreatif dengan Irlandia
Ia mendorong agar festival di Indonesia bisa dijadikan IP yang berkelanjutan, penguatan model bisnis yang mandiri, serta kolaborasi lintas negara, dengan menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat kreatif dunia yang terintegrasi.
"Festival adalah platform yang membentuk identitas kota, mendorong pariwisata, menciptakan lapangan kerja, dan berfungsi sebagai media diplomasi budaya kita yang paling efektif," ujar Wamen Ekraf.
Dalam kunjungannya di pembukaan Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2026 di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Rabu (15/4) Wamen Ekraf mengapresiasi kolaborasi ekosistem ekonomi kreatif di Yogyakarta, dengan harapan menjadi contoh bagi daerah lain.
Mengusung tema simposium "Building Festival’s Resilience in Southeast Asia", JFFE 2026 merupakan ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendorong profesionalisme manajemen festival agar menjadi aset ekonomi yang kompetitif.
Kerja sama lintas sektor mampu membangun nilai ekonomi positif yang berdampak pada tumbuhnya industri dalam jangka panjang.
“Dukungan kementerian sangat krusial dalam memastikan festival di Yogyakarta tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi yang profesional dan kolaboratif," jelas Chairman Jogja Festivals, Heri Pemad.
Simposium ini menghadirkan perspektif global dari Glyn Roberts Chief Executive Festival City Adelaide dan Natalie Hennedige Festival Director Singapore International Festival of Arts yang menyoroti pentingnya kemitraan publik-swasta serta model bisnis berkelanjutan, sejalan dengan apresiasi Wamen Ekraf terhadap inisiatif Jogja Festivals dalam mempertemukan berbagai pihak secara strategis.
Usai menjadi pembicara, Wamen Ekraf langsung meninjau Expo JFFE dan kantor Komite Ekonomi Kreatif untuk melihat langsung potensi produk lokal serta menekankan penguatan kualitas menuju pasar global.
Baca juga: Arab Saudi bidik kolaborasi budaya lebih erat dengan Indonesia
Baca juga: Wapres Gibran ajak industri kreatif perkuat kolaborasi strategis
Baca juga: Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya memperkuat sektor ekonomi kreatif





