Pelopor Investasi Negara Berkembang Mark Mobius Meninggal Dunia, Ini Profilnya

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Singapura: Dunia pasar modal global tengah berduka. Mark Mobius, sosok pionir yang berhasil membawa potensi investasi negara-negara berkembang ke dalam radar investor global selama lebih dari empat dekade, telah meninggal dunia pada usia 89 tahun.

Melansir The Edge Singapore, Jumat, 17 April 2026, kabar duka mengenai kepergian Mobius pertama kali dikonfirmasi melalui unggahan di laman LinkedIn pribadinya oleh sang juru bicara, Kylie Wong. Sementara itu, John Ninia mitra di Mobius Investments membenarkan sang legenda pasar modal tersebut menghembuskan napas terakhirnya di Singapura.

Selama lebih dari 30 tahun mengabdi di Franklin Templeton Investments atau Franklin Resources Inc, Mobius dikenal sebagai maestro pencetak cuan di kawasan Afrika, Asia, Eropa Timur, hingga Amerika Latin. Di jajaran penasihat investasi global, ia tampil ikonik dengan kepala plontosnya yang khas, sebuah penampilan yang melahirkan julukan legendaris kepada dirinya yaitu sang "Elang Botak".
  Mengawali karier di Templeton
Direkrut pada 1987 oleh John Templeton yang merupakan pelopor investasi luar negeri bagi pemodal Amerika, Mobius dipercaya untuk merintis salah satu reksa dana perdana yang secara khusus membidik pasar negara berkembang. Ia memimpin Templeton Emerging Markets Group hingga 2016 dan menjadi manajer portofolio utama untuk produk unggulan Templeton Emerging Markets Investment Trust hingga 2015, sebelum akhirnya pensiun pada Januari 2018.

Pada 2018, Mobius mendirikan Mobius Capital Partners di London, sebuah firma manajemen investasi yang secara aktif mengelola aliran dana menuju ekuitas negara berkembang. Meski memutuskan hengkang dari perusahaan tersebut pada penghujung 2023, insting bisnisnya tak pernah padam. Mobius terus bermanuver memburu peluang investasi dengan merintis perusahaan baru di Dubai, kota yang menjadi rumahnya selama tiga tahun terakhir.

Kinerja yang dicetak Mobius di dunia bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip data Morningstar Direct sejak 1989 hingga masa pensiunnya reksa dana tertutup yang dikelola Mobius sukses mencatatkan tingkat pengembalian rata-rata sebesar 13,4 persen per tahun. Bahkan sejak 2001 ketika Indeks Pasar Berkembang MSCI mulai diperkenalkan, reksa dana Templeton tersebut secara konsisten mengungguli tolok ukur pasar dengan rata-rata 1,9 persen per tahun.

Pimpinan Chartered Alternative Investment Analyst Association cabang Singapura Peter Douglas mengatakan bagi dunia investasi pasar berkembang, sosok Mark Mobius sama ikoniknya dengan Kolonel Sanders di industri ayam goreng. Peter menambahkan Mobius adalah ikon industri yang telah menjadi tulang punggung bagi kebangkitan pasar negara berkembang secara global.
  Baca juga: Legenda Persija dan Timnas Indonesia Sutan Harhara Tutup Usia-Dunia Olahraga   Rajin identifikasi peluang investasi
Dalam menjalankan strateginya, Mobius menolak untuk sekadar duduk di belakang meja. Berbasis paruh waktu di Singapura, ia menghabiskan 250 hingga 300 hari dalam setahun untuk terbang menggunakan jet pribadi Gulfstream IV miliknya untuk mengunjungi berbagai pabrik dan jaringan distributor di pelosok dunia demi mengidentifikasi peluang investasi.

"Yang unik darinya adalah dia benar-benar terjun langsung dan mencari peluang, karena kepemimpinannya dalam hal itu, saya pikir kita melihat bahwa investasi di pasar negara berkembang telah menjadi populer," ungkap Ed Yardeni, veteran Wall Street, dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television.

Insting tajam Mobius terbukti pada berbagai momen kritis. Ia secara presisi memprediksi siklus bullish pasar pada 2009. Sebelumnya, ia juga meraup untung besar di tengah badai Krisis Moneter Asia 1997 usai Thailand mendevaluasi mata uangnya pada 1997, serta melakukan aksi beli saham Rusia ketika panic selling melanda pada tahun 1998. Ia bahkan tercatat sebagai salah satu investor institusional pertama yang melirik potensi Afrika dengan meluncurkan Templeton Africa Fund pada 2012.

"Saya sangat percaya pada prinsip turun langsung. Saya lebih suka melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi di sebuah perusahaan atau negara. Kebohongan bisa sama terungkapnya dengan kebenaran, jika Anda tahu apa saja petunjuknya," tulis Mobius dalam catatannya pada 2015.


(Investor ulung Mark Mobius meninggal dunia di usia ke 89 tahun. Foto: citywire.com)
  Berasal dari keluarga sederhana
Lahir dengan nama Joseph Bernhard Mark Mobius pada 17 Agustus 1936 di Bellmore, Long Island, New York, sang legenda rupanya tumbuh dalam kesederhanaan keluarga multikultural kelas pekerja. Ayahnya Paul Mobius merupakan imigran Jerman yang berprofesi sebagai koki kapal, sementara ibunya Maria Louisa Colon memiliki garis keturunan Puerto Rico.

Tumbuh bersama dua saudara laki-lakinya, keseharian Mobius kental dengan perpaduan bahasa Jerman dan Spanyol. Menariknya, rekam jejak akademis raksasa finansial ini justru bermula dari panggung seni. Pada 1955, bermodalkan beasiswa seni peran di Universitas Boston, Mobius muda sempat bekerja sebagai pianis klub malam demi menyokong biaya kuliahnya hingga sukses meraih gelar Sarjana Seni Rupa dan Magister Ilmu Komunikasi.

Mobius juga memegang gelar Ph.D. di bidang ilmu politik dan ekonomi dari Massachusetts Institute of Technology pada 1964, karirnya bermula dari firma riset di Asia hingga akhirnya mendirikan perusahaan konsultan sekuritas di Hong Kong.

Di sela-sela kesibukannya, Mobius telah menulis belasan buku panduan investasi ternama, seperti The Investor's Guide to Emerging Markets (1994) dan Passport to Profits (1999). Ia juga sempat ditunjuk oleh Bank Dunia pada 1999 untuk memimpin gugus tugas tata kelola perusahaan global tentang tanggung jawab investor.

Hingga akhir hayatnya, Mobius diketahui tidak pernah menikah. Dalam bukunya, ia mendeklarasikan diri sebagai seorang "pengembara penuh waktu".

"Meskipun beberapa orang mungkin mengasihani saya karena tidak punya rumah, tidak punya keluarga, tidak punya kehidupan rumah tangga yang layak dibanggakan. Gaya hidup saya yang agak eksentrik menawarkan peluang tak terhitung untuk variasi, stimulasi, dan kreativitas," tulis Mobius dalam bukunya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Mangkir karena Sakit, Inara Rusli Akhirnya Penuhi Panggilan Polisi Terkait Kasus Dugaan Perzinaan
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Feri Amsari Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Ini Kasusnya
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
8 Orang Meninggal, Kemenhub Ungkap Kronologi Jatuhnya Helikopter di Sanggau Kalbar
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Penyidik Kejati Jatim Bawa Berkas dari Kantor ESDM Usai Penggeledahan Lima Jam
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Telkom Gelar Program CyberHeroes, Edukasi 420 Siswa soal Keamanan Siber
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.