VIVA –Iran merespon tegas ancaman terbaru Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk memperketat sanksi terhadap Tehran. Iran bahkan menyebut tindakan AS itu sebagai terorisme ekonomi dan pemerasan negara secara terang-terangan.
Dalam unggahan di akun X miliknya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei mengecam langkah AS dan menggambarkan sebagai upaya sengaja yang dilakukan AS untuk menimbulkan penderitaan bagi warga sipil yang tak bersalah.
“Sungguh sangat menjijikkan bagaimana kebijakan yang dengan sengaja menimbulkan rasa sakit dan penderitaan pada orang-orang tak bersalah dipresentasikan dengan sikap merasa paling benar. Hal ini hanya menunjukkan pola pikir yang tidak manusiawi di baliknya. Ini tidak lain adalah terorisme ekonomi dan pemerasan yang disponsori negara tindakan yang setara dengan kejahatan terhadap kemanusiaan dan, dalam dampak kumulatifnya, merupakan genosida,”tulis Baqaei dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 17 April 2026.
Kecaman keras Baqaei muncul setelah Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap beberapa perusahaan yang terkait dengan Iran serta kapal tanker minyak.
Menteri Keuangan AS, Scott Besant, secara terang-terangan memperingatkan bahwa negara mana pun yang membeli minyak Iran atau menyimpan aset keuangan Teheran di bank-bank mereka akan menghadapi sanksi hukuman.
Upaya berulang AS dalam melakukan tekanan ekonomi ini merupakan bagian dari kampanye panjang sanksi sepihak yang ilegal, yang bertujuan melemahkan hak-hak sah Iran dan menekan rakyatnya.
Iran secara konsisten menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut melanggar hukum internasional dan merupakan bentuk hukuman kolektif terhadap seluruh bangsa karena menjalankan hak kedaulatannya untuk mengembangkan ekonomi dan melakukan perdagangan secara bebas.
Kebijakan yang disebut tekanan maksimum oleh Washington tidak hanya gagal mematahkan tekad bangsa Iran, tetapi juga semakin menyingkap sifat agresif dan hipokrit dari kebijakan luar negeri AS.





