Terlemah Sepanjang Masa, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Rp17.185 per Dolar AS

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Jumat (17/4/2026), ditutup melemah tajam pada level Rp17.185, mencerminkan masih lemahnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi RI.

Berdasarkan data tradingview, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,28% atau turun 48 poin menuju level Rp17.185.

Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS diikuti oleh mata uang yen Jepang terhadap dolar AS terdepresiasi  0,07%, yuan China melemah 0,09%, dolar Singapura melemah 0,03%, won Korea melemah sebesar 0,16%, dolar Hong Kong turun 0,07%dan dolar Taiwan turun 0,05%. 

Baca Juga : Survei BI: Kegiatan Dunia Usaha Melambat pada Kuartal I/2026

Mata uang di kawasan Asia Tenggara lainnya juga cenderung melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina terhadap dolar AS turun 0,08%, disusul baht Thailand yang mencatatkan penurunan terdalam hingga 0,38%, dan ringgit Malaysia melemah 0,05%.

Sebaliknya penguatan terhadap dolar AS hanya terjadi untuk mata uang rupee India yang mampu terapresiasi sebesar 0,04%. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah dalam perdagangan terbaru. Pelemahan yang cukup tajam ini terjadi di tengah dominasi sentimen negatif dari dalam negeri yang terus membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Tekanan terhadap rupiah dinilai tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Meskipun indeks dolar Amerika Serikat sempat mengalami rebound, posisinya masih berada tidak jauh dari level terendah dalam enam pekan terakhir. Artinya, pelemahan rupiah lebih banyak dipicu oleh faktor domestik dibandingkan kekuatan dolar AS itu sendiri.

Kondisi ini mencerminkan masih lemahnya kepercayaan investor terhadap aset berbasis rupiah. Berbagai faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi hingga minimnya katalis positif, membuat mata uang domestik sulit bangkit meski tekanan global relatif mereda.

Memasuki awal pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan terhadap tercapainya perdamaian berpotensi menjadi sentimen positif yang dapat menahan pelemahan lebih lanjut. Namun, tanpa adanya perkembangan signifikan, rupiah diperkirakan tetap berada dalam tekanan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mengalihkan perhatian pada agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Hingga saat ini, pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Ekspektasi tersebut justru dinilai dapat menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah, karena tidak memberikan dorongan baru untuk menarik aliran modal asing ke pasar domestik.

“Dengan berbagai tekanan tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS pada perdagangan pekan depan dengan kecenderungan tetap melemah,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR - TradingView

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Helikopter Hilang Kontak di Sekadau, Kopasgat TNI AU Diturunkan Cari Korban
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Pengajuan Saksi Mahkota Irvian Bobby Dipersoalkan, Sidang Korupsi K3 Ditunda
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Video: BGN Angkat Bicara : Motor Listrik Bukan Pemborosan
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menteri LH Minta Bali Terapkan Tipiring bagi Pelanggar Sampah demi Tegakkan Disiplin
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Disindir Habis-habisan, Media Vietnam Sebut Timnas Indonesia U-17 Rapuh Jelang Duel Panas Piala AFF U-17 2026
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.