- Apa penyebab anak alami keterbatasan memori?
- Apa yang melatarbelakangi masalah ini?
- Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?
- Apa upaya pemerintah untuk mengatasinya?
Sebanyak 22,1 persen anak Indonesia mengalami working memory deficit, yakni gangguan fungsi otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang penting bagi konsentrasi dan kemampuan belajar. Kondisi ini terutama disebabkan oleh kekurangan zat besi pada anak usia sekolah. Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap ratusan siswa sekolah dasar di Jakarta pada 2026.
Studi yang dipublikasikan di The Open Public Health Journal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara tengkes, anemia defisiensi besi, asupan gizi, dan performa working memory. Anak dengan kadar hemoglobin rendah cenderung memiliki kemampuan working memory yang lebih buruk. Hal ini menegaskan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada fungsi kognitif dan prestasi belajar anak.
IHDC menilai temuan ini sebagai peringatan serius bagi upaya menuju bonus demografi Indonesia Emas 2045. Prevalensi anemia defisiensi besi yang masih tinggi berisiko menurunkan kualitas sumber daya manusia jika tidak ditangani sejak dini, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan. Anak dengan tengkes dan anemia memiliki risiko berlipat mengalami gangguan kognitif, yang pada akhirnya dapat menurunkan IQ dan capaian akademik.
Para ahli menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, khususnya protein dan zat besi, yang hingga kini masih belum optimal pada banyak anak. Menurut pakar gizi dari Indonesian Nutrition Association, asupan gizi harus beragam dan didukung zat gizi lain agar fungsi tubuh dan otak berkembang maksimal. Hasil studi ini menegaskan perlunya intervensi gizi yang berkualitas, edukasi berkelanjutan, serta peran keluarga dan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
Anemia defisiensi zat besi terbukti berdampak serius pada kemampuan kognitif anak, terutama working memory yang berperan penting dalam konsentrasi dan proses belajar. Data Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan, sekitar 25 persen anak usia sekolah di dunia mengalami anemia dan hampir separuh kasusnya disebabkan kekurangan zat besi. Kondisi ini berkorelasi negatif dengan perkembangan kognitif anak dan berpotensi menurunkan prestasi belajar.
Di Indonesia, masalah serupa masih menjadi tantangan. Studi komunitas yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 335 siswa SD di Jakarta menemukan sekitar 19,9 persen anak mengalami anemia defisiensi zat besi dan 22,1 persen mengalami gangguan working memory. Anak yang kekurangan zat besi cenderung mengalami kesulitan berkonsentrasi, memahami pelajaran, dan berinteraksi di sekolah sehingga prestasi akademiknya ikut menurun.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pola makan anak dengan anemia umumnya kurang baik, terutama minim asupan protein hewani, seperti daging, ikan, dan telur. Akibatnya, risiko penurunan working memory bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Selain anemia, gangguan penglihatan seperti rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme turut berkontribusi pada hambatan belajar, mengingat proses pembelajaran di sekolah sangat bergantung pada kemampuan visual.
Secara lebih luas, anemia pada anak berkaitan erat dengan persoalan ketahanan dan akses pangan. Laporan Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 10,64 persen rumah tangga Indonesia masih mengalami ketidakcukupan pangan, terutama kelompok rentan secara sosial dan ekonomi. Kondisi ini menegaskan bahwa pencegahan anemia dan penurunan kognitif anak memerlukan kebijakan terpadu, mencakup pemenuhan gizi seimbang, penguatan ketahanan pangan, edukasi masyarakat, serta peran aktif keluarga dan sekolah.
Anemia defisiensi besi (ADB) pada bayi dan anak merupakan masalah kesehatan yang dapat mengganggu tumbuh kembang serta kemampuan kognitif, tetapi sebenarnya dapat dicegah dan ditangani. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia, prevalensi anemia pada anak balita masih tinggi dan separuhnya disebabkan kekurangan zat besi. Karena itu, pemenuhan zat besi sejak dini menjadi langkah kunci dalam pencegahan dampak jangka panjang anemia.
Penanganan utama ADB dilakukan melalui pemenuhan asupan zat besi dari makanan dan suplementasi. Anak dianjurkan mengonsumsi sumber zat besi hewani, seperti daging, hati, ayam, dan ikan, serta pangan nabati yang didukung vitamin C untuk meningkatkan penyerapan. Pola makan ini penting karena kekurangan zat besi dapat menyebabkan anak lemah, lesu, dan berisiko mengalami gangguan perkembangan motorik serta kognitif.
Selain makanan, pemberian suplemen besi menjadi langkah penting, terutama pada bayi usia 0–24 bulan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan suplementasi besi sejak dini karena kandungan zat besi dalam ASI saja belum mencukupi kebutuhan bayi. Upaya pencegahan juga mencakup pemberian ASI selama mungkin, makanan pendamping ASI yang diperkaya zat besi, serta pengendalian pertumbuhan berat badan agar tetap sehat.
Langkah lanjutan yang tak kalah penting adalah skrining dan edukasi. Pemeriksaan darah rutin, terutama pada anak usia satu tahun, membantu deteksi dini anemia sehingga penanganan bisa segera dilakukan. IDAI menekankan pentingnya peningkatan kesadaran orangtua dan masyarakat agar anemia pada seribu hari pertama kehidupan dapat dicegah sehingga anak tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar optimal, dan terhindar dari dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah menangani anemia defisiensi besi (ADB) pada bayi dan anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar ibu hamil, anak balita, dan anak sekolah. ADB dinilai sebagai ancaman serius karena dapat menghambat perkembangan fisik, motorik, dan kognitif anak, serta menurunkan kemampuan belajar dan produktivitas di masa depan. Data nasional dan global menunjukkan prevalensi ADB masih tinggi, sejalan dengan catatan Organisasi Kesehatan Dunia yang menyebut hampir separuh anemia pada anak balita disebabkan kekurangan zat besi.
Penanganan pemerintah tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga pada pencegahan terpadu. ADB banyak dipicu oleh kurangnya asupan zat besi hewani, praktik MP-ASI yang tidak tepat, serta infeksi berulang. Karena itu, upaya yang didorong meliputi edukasi gizi bagi orangtua, fortifikasi pangan, serta penguatan skrining dan deteksi dini di fasilitas kesehatan. Pemerintah juga menekankan pemenuhan zat besi harian anak melalui bahan pangan terjangkau, seperti telur dan hati ayam.
Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pemerintah memperkuat intervensi gizi dengan MBG berbasis dapur komunitas. Survei kementerian menunjukkan masih banyak anak yang melewatkan makan karena keterbatasan pangan sehingga intervensi langsung dinilai krusial. Hingga Juli 2025, jutaan penerima manfaat telah dijangkau melalui ribuan dapur komunitas yang melayani anak sekolah, anak balita, ibu hamil dan menyusui, serta santri di pesantren.
Program MBG juga dirancang sebagai strategi pembangunan jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto menargetkan perluasan cakupan penerima manfaat hingga puluhan juta anak dan keluarga, sekaligus mendorong dampak ekonomi melalui pelibatan UMKM, petani, nelayan, dan koperasi lokal. Pemerintah menilai, dengan gizi yang tercukupi dan partisipasi masyarakat luas, kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat diperkuat sejak usia dini.





