Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan durasi kemarau akan melampaui pola normal akibat pengaruh dinamika iklim global tak stabil. Kondisi ini menandai potensi penurunan curah hujan secara signifikan di Indonesia.
Salah satu faktor utama yang mendorong situasi itu yakni fenomena El Nino. Dalam konteks Indonesia, El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya intensitas hujan dan memperpanjang periode kering sehingga meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah-wilayah yang bergantung pada hujan sebagai sumber air utama.
Kondisi ini berpotensi memberi tekanan serius bagi sektor pertanian. Petani menghadapi tantangan berupa berkurangnya ketersediaan air untuk irigasi, meningkatnya risiko gagal panen, dan penurunan produktivitas tanaman pangan.
El Nino dan musim kemarau panjang yang bisa berdampak pada sektor pertanian sudah dipahami betul oleh anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Tarsono. Selama belasan tahun ia telah mempelajari iklim dan strategi agar tetap panen meski kondisi cuaca tidak mendukung untuk sektor pertanian, khususnya di Indramayu, Jawa Barat.
Tarsono mempelajari iklim dan strategi pertanian untuk kondisi cuaca ekstrem dari ahli agrometeorologi asal Belanda, Kees Stigter dan Guru Besar Purnabakti Antropologi Universitas Indonesia Yunita Winarto. Pada tahun 2009, mereka mengajak para petani yang tergabung dalam Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHTI) hingga terbentuk PPTPI.
Dari para ahli, Tarsono memahami kemampuan analisis agrometerologi yakni mengaitkan data curah hujan dengan ekosisten guna mengetahui dampak pola hujan tertentu pada lahan dan tanaman. Dari analisis inilah petani mengetahui masalah yang terjadi di lahannya dan mencari solusi agar mampu tanggap terhadap perubahan iklim.
“Kami melakukan sejumlah jasa layanan iklim seperti pengukuran curah hujan setiap hari di lahan petani atau di stasiun pengamatan sendiri. Kemudian kami juga melakukan pengamatan agroekosistem,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) secara daring pekan lalu.
Kegiatan lainnya yang dilakukan Tarsono dan PPTPI yaitu evaluasi bulanan. Dalam kegiatan ini, para anggota berkumpul setiap bulan untuk mendiskusikan hasil pengamatan harian masing-masing.
Selain itu, evaluasi panen dilakukan setiap empat bulan guna membahas hasil panen serta berbagai aspek lain yang berkaitan dengan pertanian.
Kami melakukan sejumlah jasa layanan iklim seperti pengukuran curah hujan setiap hari di lahan petani atau di stasiun pengamatan sendiri. Kemudian kami juga melakukan pengamatan agroekosistem.
Kemudian kegiatan lain mencakup pengorganisasian wilayah serta penyusunan skenario musiman yang menjadi kunci dalam memprediksi curah hujan untuk bulan ke depan. Di samping itu, penyajian pengetahuan baru dan penguatan digitalisasi dilakukan sebagai bagian pengembangan layanan informasi iklim bagi petani.
Tarsono dan anggota PPTPI lainnya telah memantau kondisi iklim dengan mencatat curah hujan secara rutin dan sistematis di wilayahnya. Melalui pengamatan lapangan yang konsisten, ia mampu menghadirkan data yang akurat sebagai dasar dalam membaca pola musim serta mendukung pengambilan keputusan bagi petani.
Tarsono memaparkan bahwa kondisi La Nina pada awal tahun 2026 ditandai dengan curah hujan yang sangat tinggi. Pada Januari, curah hujan tercatat mencapai 445 milimeter (mm), kemudian menurun menjadi 112 mm pada Februari dan kembali turun menjadi 88 mm pada Maret.
Sementara pada bulan April yang baru berjalan beberapa hari, curah hujan yang terkumpul baru mencapai 17 mm. Data yang dihimpun ini menunjukkan adanya kecenderungan peralihan kondisi iklim dari La Nina menuju El Nino.
“Berdasarkan skenario musiman atau prediksi dari Prof Sue Walker, saat ini akan terjadi transisi dari La Nina menuju ENSO, yaitu El Nino–Southern Oscillation atau kondisi netral yang diperkirakan berlangsung pada periode Mei hingga Juli. Kemudian pada Juli–Agustus diperkirakan muncul El Nino dengan probabilitas 62 persen,” papar Tarsono.
Tarsono menyebut dari prediksi BMKG dan sumber lainnya, kondisi pada Juni diperkirakan berada di bawah normal. Ia pun menyimpulkan curah hujan pada periode tersebut diproyeksikan berada di bawah 130 mm, bahkan berpotensi turun hingga kisaran 30 mm.
Berdasarkan hasil analisisnya, pada Juli curah hujan diperkirakan kembali menurun hingga sekitar 5 mm. Kondisi ini menunjukkan bahwa petani akan menghadapi penurunan curah hujan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Lebih lanjut, Tarsono menjelaskan pola musim tanam di Indramayu dan sekitarnya umumnya dimulai pada Januari dengan masa panen sekitar awal Mei. Sementara itu, musim tanam kedua berlangsung pada Juni hingga panen pada Oktober atau November.
Dalam menghadapi El Nino di desanya, Tarsono menerapkan strategi adaptasi dengan sejumlah indikator yang menjadi acuan utama. Salah satunya yakni ketersediaan air irigasi yang disampaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Bidang Sumber Daya Air dalam forum musyawarah desa.
Indikator berikutnya yakni upaya menghindari serangan hama penggerek batang melalui perhitungan dan langkah antisipasi yang tepat. Skenario musim atau prediksi curah hujan juga disampaikan kepada petani dalam rapat desa untuk menentukan jadwal semai.
Tarsono menambahkan, pada musim tanam kedua yang diperkirakan terdampak El Nino, pihaknya memberikan rincian curah hujan setiap bulan kepada petani. Informasi tersebut menjadi dasar dalam pengambilan keputusan agar risiko gagal panen dapat ditekan.
Selanjutnya, distribusi pupuk subsidi yang disampaikan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Di samping itu, pranata mangsa yang disampaikan para pinisepuh atau tokoh masyarakat turut menjadi referensi dalam menentukan langkah adaptasi di tingkat lokal.
Untuk rekomendasi musim tanam kedua, Tarsono menyebut penggunaan varietas berumur genja (umur pendek) serta percepatan olah tanah setelah panen.
Ia juga menekankan pentingnya komposisasi, penghematan air, serta kewaspadaan terhadap peningkatan suhu hingga 34–36 derajat celsius dan laju evaporasi 5–7 mm per hari yang berpotensi menyebabkan kekurangan air di lahan sawah.
“Manfaat pembelajaran agrometeorologi ini bisa mengukur curah hujan setiap hari, memahami pola curah hujan dalam kondisi iklim tertentu, mengamati kondisi ekosistem lahan, serta memahami pola curah hujan pada lahan pertanian. Jika ditemukan masalah, segera cari solusi untuk menghindari kerugian atau gagal panen,” tuturnya.
Sekretaris Jenderal Perhimpi Haris Syahbuddin menuturkan, langkah antisipasi terhadap musim kemarau seharusnya telah dilakukan sejak lama, mengingat kondisi ini merupakan siklus yang dapat diprediksi, termasuk saat fenomena El Nino terjadi lebih kuat.
Salah satu upaya utama yang perlu dilakukan yakni menangkap atau memanen air, lalu mengelolanya secara efisien. Kemudian penyesuaian tanaman menjadi hal penting, baik dari sisi varietas maupun pola tanam yang digunakan. Pada musim kering, wilayah rawan kekeringan perlu dipetakan, disertai normalisasi saluran irigasi dan penyediaan pompa air.
Sumber air, baik air permukaan maupun air tanah, perlu diidentifikasi dan dikonservasi sejak jauh hari. Upaya tersebut harus dilakukan secara konsisten dan terencana, bukan hanya dilakukan secara mendadak saat kondisi krisis terjadi.
Haris menekankan, strategi lain yang dapat diterapkan yakni menghemat air serta menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas yang tepat. Dalam kondisi kering atau kemarau ekstrem, petani bisa beralih ke tanaman palawija seperti kacang hijau yang lebih cepat panen untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Konsep panen air juga menjadi kunci dalam menghadapi keterbatasan air, yakni dengan mengumpulkan, menampung, dan menyimpan air hujan. Pemanfaatan atap rumah, saung, dan bangunan lain sebagai media penangkap air juga dapat menjadi solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi kekeringan.





