Cerita Petugas Gerebek Sarang Ikan Sapu-sapu di Kali Semanan Jakbar, Picu Kerusakan Turap

kompas.com
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di bawah terik matahari, puluhan petugas gabungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat menceburkan diri ke Kali Semanan di Taman Semanan Indah (TSI), Kalideres, Jakarta Barat, pada Jumat (17/4/2026) pagi.

Para petugas dari Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP), Suku Dinas (Sudin) Sumber Daya Alam (SDA), hingga Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), terlihat menyingsingkan lengan baju untuk menggerebek ikan sapu-sapu.

Ikan invasif tersebut diburu karena dinilai merusak ekosistem serta menggerogoti infrastruktur sungai di Ibu Kota.

Baca juga: Warga Antusias Sambut Rencana Insentif Penangkapan Ikan Sapu-sapu di Jaktim

Para petugas masuk ke badan Kali Semanan yang berwarna hitam pekat. Kedalaman air awalnya hanya setinggi pinggang, namun di beberapa titik mencapai dada hingga leher, atau sekitar 1,5 meter.

Dengan jaring berukuran besar, petugas meraba dasar kali untuk mencari persembunyian ikan. Jaring kemudian ditebar dan diangkat dengan hasil puluhan ikan yang meronta di dalamnya.

Petugas lain membantu mengambil ikan menggunakan jaring yang lebih kecil untuk kemudian ditimbang. Namun, tak sedikit ikan yang lolos dan kembali bersembunyi di celah-celah dinding turap.

Rusak Turap Sungai

Fransiskus dan Yusuf, dua petugas PPISHP yang ikut turun langsung ke kali, mengaku melihat dampak kerusakan yang ditimbulkan ikan sapu-sapu.

"Sapu-sapu kan dia masuk ke lobang ya, kalau terlalu banyak orang tuh pada masuk ke lobang semua. Kita masukin tangan juga udah nggak nyampe, ternyata udah ngerusak turap," kata Yusuf kepada wartawan di lokasi, Jumat.

Hal itu dibenarkan Fransiskus. Ia menyebut kerusakan di balik turap jauh lebih parah dari perkiraannya.

Baca juga: Tekankan Disiplin, Pramono Bakal Larang Pejabat Ikut Rapat jika Datang Terlambat

"Banyak banget itu lobang di dalam. Itu bener-bener ngerusak ekosistemnya kalau di drainase, kalau buat konstruksinya, ngancurin, bikin rawan ambruk," jelas Fransiskus.

Menurut Fransiskus, kedalaman lubang yang dibuat ikan bahkan melebihi 50 sentimeter, sehingga sulit dijangkau tangan.

"Enggak nyampe, udah lebih dari 50 cm. Kalau kita paksain masuk yang ada luka tangan kita. Karena ada batu-batu apa segala macem, pas narik lagi enggak bakal bisa keluar mulus lah tangan udah pasti rusak serab," ungkap Fransiskus.

Lubang-lubang tersebut dinilai berbahaya karena dapat menggerus struktur tanah di balik turap dan melemahkan ketahanan tanggul dalam jangka panjang.

Kendala Operasi dan Masukan Bagi Wali Kota

Yusuf mengungkapkan, arus sungai yang deras menjadi salah satu kendala selama operasi, bahkan sempat menyeret jaring yang digunakan.

Selain itu, tumpukan sampah di dasar kali juga menghambat proses penangkapan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Dari Konten Viral ke Selera Musik, Pop Jawa Meledak Berkat Media Sosial


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cobalt Sulfate Asal Maluku Utara Meluncur ke Pasar Global
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Jumlah penumpang Singapore Airlines naik 7,7 persen pada 2025-2026
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
PSI Pastikan Ketum Kaesang Belum Bicara soal Kader Pengganti Posisi Menteri yang akan Direshuffle
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Sempat Ingin Ditolong Ivan Gunawan, Pinkan Mambo Sebut Dirinya Tak Bisa Diatur
• 11 jam lalucumicumi.com
thumb
Rapat RUU Pemilu Batal, Pimpinan Komisi II: Draf Belum Ada, Masih Butuh Pengayaan
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.